Biografi Sultan Hasanudin: Pahlawan Nasional dari Sulawesi Selatan

0
15
Biografi Sultan Hasanudin
Biografi Sultan Hasanudin

Diarylounge.com, Hallo sahabat diary, kali ini kita akan membahas biografi Sultan Hasanuddin. Julukan Ayam Jantan dari Timur, pasti sudah tidak asing lagi dengan julukan tersebut.  Siapa lagi kalau bukan Sultan Hasanudin yaitu seorang pahlawan nasional Indonesia yang terkenal karena memiliki keberanian dan sifat yang gigih untuk membela Indonesia dari penjajahan pasukan Belanda.

Semangat juang dan sikap nasionalisme telah membuat Sultan Hasanudin dinobatkan menjadi salah satu pahlawan nasional. Sultan Hasanudin dikenal sebagai pahlawan Indonesia yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dikenal dengan nama Sultan Hasanudin, beliau lahir dengan nama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mttawang Karaeng Bonto Mangape.

Berdasarkan biografi Sultan Hasanudin juga merupakan penguasa kerajaan islam Gowa yang ketika itu menguasai jalur perdagangan perdagangan wilayah timur Indonesia. Beliau bahkan berhasil membawa kerajaan Islam Gowa mencapai  puncak kejayaannya pada abad ke 16 sebagai salah satu kerajaan terbesar di bagian timur ketika itu.

Beliau lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan kemudian meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun. Setelah memutuskan untuk memeluk agama Islam, beliau mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja.

Oleh Belanda pada masa penjajahan saat itu, beliau di juluki sebagai Ayam Jantan Dari Timur atau dalam bahasa Belanda disebut de Haav van de Oesten karena keberaniannya melawan penjajah Belanda. Beliau diangkat menjadi Sultan ke 6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655). Menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid yang wafat.

Selain mendapatkan bimbingan dari ayahnya, Sultan Hasanuddin juga mendapat bimbingan mengenai pemerintahan melalui Karaeng Pattingaloang, seorang Mangkubumi kerajaan Gowa. Beliau juga merupakan guru dari Arung Palakka, yang merupakan raja Bone.

Dalam biografi Sultan Hasanudin dikatakan bahwa beliau melakukan pembelajaran atau pendidikan di Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam di Masjid Bontoala yang membuatnya menjadi pemuda religius, jujur, berani, namun tetap rendah hati dengan jiwa patriotisme yang tinggi.

Nama : Sultan Hasanudin

Nama Lain : I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe

Julukan : Ayam Jantan Dari Timur

Lahir : Makassar, 12 Januari 1631

Wafat : Makassar, 12 Juni 1670

Orang Tua : Sultan Malikussaid (ayah), I Sabbe To’mo Lakuntu (ibu)

Saudara : Patimang Daeng Nisaking Karaeng Bonto Je’ne, Karaeng Bonto Majanang, Karaeng Tololo

Istri : I Bate Daeng Tommi, I Mami Daeng Sangnging, I Daeng Talele dan I Hatijah I Lo’mo Tobo

Anak : Karaeng Galesong, Sultan Amir Hamzah, Sultan Muhammad Ali.

Masa Kecil Sultan Hasanudin

Biografi Sultan Hasanudin merupakan keturunan bangsawan yang lahir pada 12 Juni 1631 di Makasar, Sulawesi Selatan. Saat lahir beliau diberi nama  : I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Sultan Hasanudin lahir dari pasangan Sultan Malikussaid dan I Sabbe To’mo Lakuntu.

Setelah memutuskan untuk memeluk agama Islam, nama beliau diganti menjadi Sultan Hasanudin Tumenanga Ri Balla Pangkana yang lebih akrab disapa Sultan Hasanudin. Sultan Hasanudin merupakan keturunan kerjaan gowa yang berada di Makasar, Sulawesi Selatan.

Sejak kecil beliau telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang sangat bagus. Hal itu karena sang ayah yang juga generasi penerus kerjaan selalu membekali anak-anaknya dengan pendidikan yang baik. Ketika sang kakek wafat saat usia Sultan Hasanudin masih sangat muda, maka sang ayah Sultan Hasanudin diangkat menjadi raja Gowa. Setelah itu tahta kerajaan dilanjutkan oleh Sultan Hasanudin.

Menjadi Raja Gowa

Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada dibawah Kabupaten Gowa dan daerah sekitarnya yang dalam bingkai negara kesatuan RI dimekarkan menjadi Kotamadya Makassar dan kabupaten lainnya.

Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap Belanda yang dibantu oleh Kerajaan Bone yang berasal dari Suku Bugis dengan rajanya Arung Palakka.

Dalam biografi Sultan Hasanudin sejak kecil telah memiliki ciri-ciri kepemimpinan, kecerdasan, serta rajin dalam mempelajari banyak hal. Oleh sebab itu, beliau lebih unggul dibandingkan ketiga saudaranya yang lain. Kepandaian dalam bersosialisasi dengan banyak orang dalam istana maupun pendatang seperti pedagang membuat dirinya menjadi lebih dikenal.

Kerajaan Gowa, merupakan salah satu kerajaan yang waktu itu menjadi incaran pemerintah Belanda. Hal itu karena kerajaan Gowa adalah kerajaan besar di wilayah timur yang menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Pada usia ke 8 tahun, Sultan Hasanudin sudah ditinggalkan oleh kakeknya, Raja Gowa ke 14 dan digantikan oleh ayahnya, Sultan Malikussaid sebagai Raja Gowa ke 15 pada 15 Juni 1639.

Semenjak kepemimpinan ayahnya, Sultan Hasanudin telah diajari berbagai macam hal tentang kepemimpinan, ilmu pemerintahan hingga strategi perang. Di Usianya yang masih tergolong sangat muda yakni 21 tahun. Sultan Hasanudin telah diberikan kepercayaan untuk membantu ayahnya bertahan dari pemerintahan Hindia Belanda.

Pada November 1653, di usianya yang ke 22 tahun, Sultan Hasanudin kemudian diangkat menjadi Raja Gowa ke 16. Sultan Hasanudin diperintahkan oleh ayahnya sebelum wafat agar menjadi pemimpin yang berani dan berpengetahuan.

Perjuangan Sultan Hasanuddin

Biografi Sultan Hasanudin
Biografi Sultan Hasanudin

Dibawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya. Beliau merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin menjadi Raja Gowa ke 16 dan memerintah Kerajaan Gowa ketika Belanda yang diwakili VOC sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah.

Dalam Biografi Sultan Hasanuddin, VOC Belanda sedang berusahan melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah melihat Sultan Hasanuddin dan kerajaan Gowa sebagai penghalang mereka. Orang Makassar dapat dengan leluasa ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hal inilah yang menyebabkan Belanda tidak suka.

Belanda melarang orang Makassar berdangan dengan musuh Belanda seperti Portugis dan yang lainnya. Larangan tersebut ditolak keras oleh Sultan Hasanuddin, yang memiliki prinsip hidup sama seperti yang dimiliki oleh kakek dan ayahnya, yaitu bahwa tuhan menciptakan bumi dan lautan untuk dimiliki dan dipakai secara bersama-sama.

Sejak pemerintahan Sultan Alauddin hingga Sultan Hasanuddin, Kerajaaan Gowa tetap berpendirian sama, menolak keras monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC Belanda. Saat itu Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.

Kompeni terus melakukan perbaikan dan penambahan kekuatan pasukannya hingga membuat Kerajaan Gowa melemah dan akhirnya terdesak pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya.

Perjanjian tersebut merugikan pihak Kerajaan Gowa, hal tersebut membuat Sultan Hasanuddin melakukan perlawan kembali yang membuat kompeni meminta bantuan kepada tentara Batavia. Cara lain yang dapat ditempuh oleh Belanda selain menghancurkan kerajaan Gowa yang dianggap mengganggu mereka.

Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni Belanda. Peperangan antara VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dimulai pada tahun 1660.

Setelah berhasil ditembusnya benteng terkuat yang dimiliki oleh Kerajaan Gowa, pada tanggal 29 Juni 1969, Sultan Hasanuddin turun tahta dan beliau digantikan oleh anaknya, yang bernama I Mappasomba Daeng Nguraga yang bergelar Sultan Amir Hamzah.

Sejarah Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka

Saat itu Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone dibawah pimpinan Arung Palakka yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Namun armada kerajaan Gowa yang masih sangat kuat membuat Kerajaan Gowa tidak dapat ditaklukkan.

Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala akhirnya tewas tetapi Arung Palakka berhasil meloloskan diri bahkan kerajaan Gowa mencarinya hingga ke Buton. Perang tersebut berakhir dengan perdamaian. Berbagai peperangan kemudian perdamaian dilakukan.

Akan tetapi, perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda , yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah besar.

Arung Palakka yang dari tahun 1663 berlayar dan menetap di Batavia menghindari kejaran kerajaan Gowa kemudian membantu VOC dalam mengalahkan kerajaaan Gowa yang ketika itu dipimpin oleh Sang Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin.

Belanda mengirimkan armada perangnya yang besar yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Ia dibantu  oleh Kapiten Jonker dan pasukan bersenjatanya dari Maluku serta Arung Palakka, penguasa Kerajaan Bone yang ketika itu mengirimkan 400 orang sehingga total pasukan berjumlah 1000 orang yang diangkut 21 kapal perang bertolak dari Batavia menuju kerajaan Gowa pada bulan November 1966.

Perang Makassar

Biografi Sultan Hasanudin
Biografi Sultan Hasanudin

Persaingan antara Kesultanan Makassar Gowa-Tallo dan Kerajaan Bone pada akhirnya melibatkan campur tangan dari pemerintahan Belanda (VOC) pada saat itu dalam sebuah peperangan yang dinamakan Perang Makassar (1660-1669). Hal itu terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama, Kesultanan Makassar terlibat persaingan dengan Kerajaan Bone.

Pemerintah Belanda (VOC) yang saat itu mempunyai tujuan tertentu yaitu, berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di pelabuhan Makassar. Mereka memanfaatkan situasi dengan berpihak pada Kerajaan Bone, sebagai musuh Kesultanan Makassar.

Kemudian dalam peperangan Makassar ini Kesultanan Makassar dipimpin langsung oleh Sultan Hasannudin akan tetapi Hasannudin tidak bisa mematahkan kekuatan Kerajaan Bone yang dibantu oleh kekuatan Belanda (VOC) yang berambisi menguasai Makassar.

Sultan Hasannudin dipaksa oleh VOC untuk menandatangai Perjanjian Bungaya pada November 1667 sebagai tanda bukti takluk kepada VOC. Dalam Biografi Sultan Hasanuddin, Perang besar kemudian terjadi antara Kerajaan Gowa melawan Belanda yang dibantu oleh Arung Palakka dari Bone yang kemudian dikenal dengan Perang Makassar.

Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan akhirnya sepakat untuk menandatangani perjanjian paling terkenal yaitu Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Berikut ini merupakan isi dari perjanjian antara kesultanan Makassar dengan VOC (Belanda):

1. VOC memperoleh hak monopoli di Makassar.
2. VOC diizinkan mendirikan benteng di Makassar.
3. Makassar harus melepaskan jajahan seperti Bone.
4. Semua bangsa asing diusir dari Makassar, kecuali VOC.
5. Kerajaan Makassar diperkecil hanya tinggal Gowa saja.
6. Makassar membayar semua utang perang.
7. Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.

Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun karena Belanda sudah kuat maka Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai Belanda. Yang akhirnya membuat Sultan Hasanuddin mengakui kekuasaan Belanda.

Jatuhnya Kesultanan Gowa

Pertempuran yang terjadi sejak 1660 yang disebut perang makassar masih terus berlangsung. VOC dibawah kepemimpinan Belanda telah mempunyai sekutu yang amat berharga, yakni Arung Palakka dari Bone. Arung Palakka dari bone membantu VOC karena dendamnya lantaran Gowa menjajah dan memperbudak Kerajaan Bone.

Bahkan, disebutkan oleh Palloge Petta Nabba dalam Sejarah Kerajaan Tanah Bone (2006), Arung Palaka dan keluarganya pernah dijadikan pembantu di rumah pejabat tinggi Gowa (hlm. 124). Setelah berhasil lolos dari Gowa, Arung Palakka lantas meminta bantuan VOC ke Batavia. Arung Palakka yang memang terampil dalam bertempur sempat membantu VOC menaklukkan berbagai wilayah jajahan.

Arung Palakka pernah berkolaborasi dengan Cornelis Speelman dan Joncker Jouwa de Manipa alias Kapiten Jonker (Anthony Reid, Charting the Shape of Early Modern Southeast Asia, 2000). Kemudian, pada 1666, pasukan Arung Palakka turut serta dalam armada besar VOC yang dipimpin Cornelis Speelman untuk menyerang kerajaan Gowa.

Pertempuran besar pun terjadi dan berlangsung beberapa bulan lamanya. Kesultanan Gowa terdesak karena dijepit oleh pasukan gabungan lawan. VOC menyerang dari laut sekaligus memblokir jalur perdagangan, sementara urusan darat dikerjakan sepenuhnya dengan sangat baik oleh Arung Palakka.

Situasi yang amat tidak menguntungkan ini membuat Sultan Hasanuddin terpaksa menyerah dan bersedia diajak berunding. Perundingan itu dilakukan pada 18 November 1667 dan dikenal dengan nama Perjanjian Bungaya seperti sudah dijelaskan sebelumnya diatas.

Setelah itu Sultan Hasanuddin rupanya masih menyimpan kekecewaan. Lantaran merasa sangat dirugikan atas hasil Perundingan Bungaya itu, Gowa kembali melawan dan ini berarti, Sultan Hasanuddin sudah dua kali melanggar kesepakatan dengan VOC. Pada kedua kalinya pemerintahan Belanda (VOC) tidak lagi memberi ampun.

Dengan mengerahkan seluruh pasukan gabungan, termasuk pasukan dari Bone dan Ambon, ditambah kedatangan bala bantuan dari Batavia, VOC berhasil menaklukkan benteng terkuat Kesultanan Gowa di Somba Opu pada 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin menyerah dan terpaksa meletakkan takhta.

Sultan Hasanuddin Wafat

Walaupun begitu, Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan Gowa dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Gowa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

I Bate Daeng Tommi, I Mami Daeng Sangnging, I Daeng Talele dan I Hatijah I Lo’mo Tobo merupakan nama-nama dari Istri Sultan Hasanuddin. Ketika beliau wafat, beliau digantikan oleh I Mappasomba Daeng Nguraga atau dikenal dengan Sultan Amir Hamzah yang merupakan anak dari Sultan Hasanuddin, selain anak bernama Sultan Muhammad Ali dan karaeng Galesong.

Perjuangan melawan Belanda selanjutnya dilaukan oleh Karaeng Galesong yang berlayar hingga ke Jawa membantu perlawanan dari Trunojoyo dan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten melawan Belanda. Untuk Menghormati jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Hasanuddin dengan SK Presiden Ri No 087/TK/1973.

Nama Sultan Hasanuddin juga diabadikan sebagai nama Bandar Udara di Makassar yakni Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, selain itu namanya juga dipakai sebagai nama Universitas Negeri di Makassar yakni Universitas Hasanuddin dan menjadi nama jalan di berbagai 

Penghargaan untuk Sultan Hasanuddin

Sebagai seorang pahlawan nasional yang memiliki jasa besar bagi Indonesia khususnya wilayah timur. Maka kita harus menghormati dan menghargai segala sesuatu hal baik yang telah dilakukan oleh Sultan Hasanuddin semasa hidupnya untuk menjaga keutahan wilayah Indonesia.

Sultan Hasanuddin diangkat sebagai pahlawan nasional pada tanggal 6 November 1973 berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973.

Sikap Tauladan Sultan Hasanudin

1. Pemberani

Sultan Hasanudin merupakan sosok pahlawan nasional yang memiliki keberanian besar. Sebab itu pula  beliau dijuluki ayam jantan dari timur. Saat memimpin kerajaan Gowa beliau dengan tekad kuat memberontak VOC yang ada dibawah kepemimpinan Belanda. Beliau tidak terima maksud dan tujuan Belanda yang datang untuk memonopoli dan menguasai hasil rempah-rempah Indonesia.

2. Taat Beragama

Seperti diketahui, awal kelahirannya Sultan Hasanudin memiliki nama lengkap I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Hanya saja saat ajaran islam mulai masuk ke daerah Makassar, beliau memutuskan untuk memeluk agama islam.

Sejak itulah beliau mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, nemun lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja.

3. Berjiwa Pemimpin

Sifat dan sikap lainnya yang dimiliki oleh Sultan Hasanudin adalah berjiwa pemimpin. Sejak kecil sang ayah yang merupakan raja gowa ke 15 memang sudah melihat bakat kepemimpinan pada diri Sultan Hasanudin. Beliau yang hidup di lingkungan kerajaan dapat dengan bijak menghadapi rakyatnya.

Terbukti setelah beliau ditetapkan menjadi pemimpin kerajaan Gowa, beliau mampu mengayomi dan melindungi rakyat serta daerahnya. VOC yang memiliki tujuan buruk untuk menguasai rempah-rempah pun merasa tidak aman dengan penolakan kerjasama kerjaan Gowa. Hingga akhirnya VOC meminta bantuan Arung Palakka dari Bone untuk menjatuhkan Gowa. Hal itu berhasil dilakukan mereka hingga Sultan Hasanudin pun menyerahkan tahtanya dan jatuhnya kerajaan Gowa.

Penutup

Itulah ulasan singkat biografi Sultan Hasanudin. Beliau yang telah lama tiada kini menorehkan sejarah dan meninggalkan nama serta jasanya bagi bangsa ini. Belanda yang saat itu menyerang Indonesia dengan cara membagi pada tiap-tiap daerah memiliki pasukan yang kuat. Jika tanpa adanya para pahlawan nasional di tiap wilayah tentu nusantara kini telah terpecah belah dan tidak menjadi Republik Indonesia.

Kini kita sebagai bangsa penerus harus menghargai jasa-jasa para pahlawan yang membesarkan nama bangsa ini ya sahabat diary. Tak lupa berdoa dan menjadikan jiwa nasionalisme mereka sebagai tauladan kita dalam mencintai tanah air kita.

Semoga artikel biografi Sultan Hasanudin yang telah dipaparkan dapat bermanfaat sebagai pengetahuan dan pembelajaran generasi Indonesia mendatang kelak. Mohon maaf atas kekurangan atau ketidak lengkapan informasi yang tersaji. Sampai jumpa pada biografi lainnya sahabat diary.

Ketahui juga Biografi Tokoh, Profil Negarawan dan Tokoh Terkenal Indonesia berikut ini: