Biografi Soeharto – Presiden Kedua & Bapak Pembangunan Indonesia

0
23
biografi Soeharto
biografi Soeharto

diarylounge.com, Pasti kita sudah tidak asing dengan biografi Soeharto kan sahabat diary. Tidak hanya terkenal oleh generasi terdahulu, tetapi namanya masih familiar di generasi 90 an. Ya, beliau adalah presiden kedua Indonesia di masa orde baru dengan masa pemerintahan terlama yakni selama 32 tahun lamanya dari tahun 1967 hingga 1998.

Soeharto dikenal dengan ciri khasnya yakni memilki raut muka yang seakan selalu tersenyum, hingga beliau dijuluki “The Smiling General” atau “ Sang Jenderal yang Selalu Tersenyum” oleh dunia barat. Di masa pemerintahannya beliau sukses mengantarkan Indonesia menjadi negara Swasembada dimana sektor dibidang pertanian amat berkembang dengan pesatnya melalui Program Rapelitanya.

Pada awalnya Soeharto merupakan seorang pemimpin militer yang berpangkat Mayor Jenderal di masa penjajahan Jepang dan Belanda. Hingga akhirnya mengambil kekuasaan presiden Soekarno pada saat itu. Masa pemerintahan Soeharto pun dimulai pada tahun 1967 yang lebih dikenal dengan nama Orde Baru.

Nama : Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto

Tempat, Tanggal Lahir : Kemusuk, Yogyakarta, 8 Juni 1921

Wafat : Jakarta, 27 Januari 2008

Orang tua : Kertosudiro (ayah), Sukirah (ibu)

Istri : Tien Soeharto

Anak : Siti Hardijanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala Putra, Siti Hutami Endang Adiningsih

Agama : Islam

Kelahiran dan Masa Kecil Soeharto

Dalam artikel ini kita akan mengulas tentang biografi Soeharto. Mantan Presiden Kedua Indonesia serta bapak pembangunan ini dilahirkan di Kemusuk, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921. Beliau lahir dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah.

Ayah beliau yang merupakan seorang pembantu lurah dalam bidang pengairan sawah dan juga sekaligus seorang petani. Setelah lahirnya Soeharto, kedua orangtuanya pun memutuskan untuk bercerai. Soeharto kemudian dititipkan kepada salah satu kerabat ibunya yakni Mbah Kromodiryo.

Hal itu dilakukan ibunya karena kondisi ibunya yang sakit-sakitan hingga tak mampu menyusui Soeharto saat itu. Namun saat Soeharto berusia 4 tahun, ia pun dijemput oleh ibunya Sakirah dan mengajaknya tinggal bersama dengan suami barunya yang bernama Atmopawiro.

Ketika berumur delapan tahun Soeharto mulai bersekolah tetapi ia sering berpindah-pindah sekolah. Awalnya ia sekolah di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean kemudian ia pindah ke SD Pedes dikarenakan keluarganya pindah ke Kemusuk, Kidul.

Hal itu karena Soeharto harus tinggal berpindah-pindah beberapa kali. Soeharto memiliki seorang buyut yang bernama Notosudiro. Buyutnya merupakan salah satu pengawas keraton hingga Soeharto sering dipanggil “Den” pada saat itu.

Tak lama kemudian Soeharto dititipkan pada adik perempuan ayah kandungnya yang bersuamikan seorang mantri tani bernama Prawirodiharjo. Disana Soeharto memperoleh pendidikan dan dibesarkan dengan baik. Hingga akhirnya beliau dijemput lagi oleh ayah tirinya.

Masa Muda Soeharto

Usai menyelesaikan pendidikannya di Schakel Muhammadiyah Yogyakarta, Soeharto mulai mencari pekerjaan kesana kemari karena anggota keluarganya tak ada yang mampu membiayai pendidikan lanjutannya.  

Kala itu mencari pekerjaan bukanlah perihal mudah tanpa adanya bantuan dari orang yang berkedudukan maupun berpengaruh. Tak kunjung mendapat pekerjaan, Soeharto pun memutuskan merantau ke Wuryantoro karena banyaknya kenalan di daerah tersebut.

Hingga akhirnya Soeharto mendapat pekerjaan sebagai pembantu klerek pada sebuah bank Desa (Volks Bank). Dari pekerjaannya tersebut beliau banyak belajar tentang pembukuan. Hal yang tidak terduga pun terjadi, secara tidak sengaja Soeharto menyobekkan kain batik satu-satunya yang menjadi seragam harian untuknya bekerja.

Akhirnya Soeharto dipecat saat itu, kemudian beliau merantau ke Solo namun tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Hari-harinya pun diisi dengan kegiatan gotong royong membangun mushola, menggali parit dan membereskan lumbung.

Pendidikan Soekarno

biografi Soeharto
biografi Soeharto

Saat dibuka pendaftaran masuk KNL (Koninlijk Nederlands-Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda Soeharto mendaftar. Beliau pun diterima dan menjalani dinas pertamanya selama 3 tahun di Kortverband di Gombong.

Soeharto pun menjadi lulusan terbaik dan ditugaskan menjadi wakil Komandan Regu di Batalyon XIII Rampal Malang. Selain itu beliau juga menjalani praktek di Pantai Pertahanan Gresik selama kurang lebih 2 minggu.

Soeharto juga mengikuti ujian masuk Sekolah Kader di Gombong untuk mendapatkan gelar sersan. Setelah mendapatkan pangkat Sersan ia pun ditugaskan ke Bandung untuk dijadikan cadangan pada Markas Besar Angkatan Darat bertempat di Cisarua.

Dua minggu setelah menjalani penempatan di Cisarua pada tanggal 8 Maret 1942, Belanda pun menyerah pada Jepang. Karena takut ditangkap oleh Jepang, Soeharto pun memutuskan pulang ke Yogyakarta. Saat itu pula Malaria yang dideritanya kambuh sehingga membuatnya terbaring selama 6 bulan.

Setelah sembuh, Soeharto kembali ke Yogyakarta dengan mengikuti les mengetik. Tidak lama kemudian dibukalah penerimaan keanggotaan Keibuho yakni nama polisi Jepang di Indonesia. Soeharto diterima dan lulus dengan predikat terbaik. Karena keberhasilannya, ia pun dianjurkan mendaftar menjadi tentara sukarela PETA (Pembela Tanah Air).

Soerharto diterima dan dilatih menjadi Komandan Peleton (Shodancho). Seusai menjalani masa pendidikan, Soeharto pun ditempatkan di Batalyon Wates Yogyakarta, Pos pertahanan di Glagah Pantai Selatan Yogyakarta serta Madiun. Keberhasilannya menjadi Shodancho, mengantarkannya menjadi Komandan Kompi (Chucandho) untuk mempelajari strategi perang.

Seusai pendidikan Ia ditempatkan di Seibu yakni markas besar PETA di Solo di Kusumoyudan. Karir militer Soeharto pun berjalan mulus dari sini. Ia ditugaskan diberbagai markas besar PETA yang ada di beberapa daerah.

Ia berhasil bebas dari pembersihan karena pemberontakan PETA di Blitar. Hingga akhirnya oleh Jepang ia ditempatkan di Kaki Gunung Wilis di Desa Brebeg selatan Madiun untuk melatih prajurit PETA. Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945 setelah Indonesia merdeka, Soeharto kemudian resmi menjadi anggota TNI.

Pernikahan Soeharto

Dari biografi Soeharto juga dapat kita ketahui kisah cinta dengan istri tercintanya.  Soeharto dan Hartinah atau yang lebih kita kenal dengan Bu Tien ini sama-sama bersekolah di Wonogiri. Soeharto merupakan kakak tingkat Bu Tien saat itu. Setelah lulus, mereka berdua terpisah oleh jarak dan waktu yang lama.

Mereka berdua bertemu kembali saat sama-sama menjalani tugas negara. Dimana pak Harto bertugas sebagai tentara sedangkan Bu Tien tergabung dalam Organisasi Perjuangan Perempuan (Laswi) serta Palang Merah Indonesia. Hingga akhirnya sang paman menawari sang calon pemimpin tersebut untuk menikah dan siapa sangka lamaran Pak Harto diterima oleh Hartinah.

Pada tanggal 26 Desember 1947 keduanya pun menikah, meskipun pada awalnya pak Harto rendah diri karena status Ningrat yang dimilki oleh Bu Tien. Pesta pernikahan mereka juga hanya dilakukan dengan sangat sederhana bahkan hanya dengan penerangan lilin semata.

Dari pernikahan tersebut Soeharto dikaruniai enam orang anak yaitu Siti Hardijanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang trihatmojo, Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala Putra serta Siti Hutami endang Adiningsih. Pada tahun 1996 Bu Tien pun meninggal dunia.

Peristiwa G30S/PKI

Tibalah pada peristiwa mencekam bangsa ini yakni peristiwa G-30-S/PKI meletus pada tanggal 1 Oktober 1965. Soeharto kemudian bergerak cepat mengambil alih kendali pimpinan Angkatan Darat ketika itu. Beliau kemudian mengeluarkan perintah yang cepat untuk mengatur dan mengendalikan keadaan negara yang kacau akibat dari kudeta oleh PKI.

Setelah peristiwa G-30-S/PKI, Soeharto kemudian menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat menggantikan Jendral Ahmad Yani yang gugur di tangan PKI. Selain sebagai Panglima Angkatan Darat, Soeharto juga menjabat sebagai Pangkopkamtib yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno pada waktu itu.

Saat itu peran Soeharto dalam TNI sangatlah berjasa bagi bangsa ini. Beliau dengan sigap meredakan kacaunya kondisi bangsa. Dimana beberapa jendral besar gugur dalam pembunuhan tragis satu malam dan isu yang beredar bahwa negara akan diambil alih oleh PKI. Disinilah titik balik awal mulanya karir Soeharto dalam dunia politik.

Puncak karier Soeharto ketika ia menerima Surat Perintah Sebelas Maret atau yang dikenal sebagai “Supersemar” oleh Presiden Soekarno pada bulan maret 1966 dimana tugasnya adalah mengendalikan keamanan dan juga ketertiban negara yang kacau setelah kudeta yang dilakukan oleh PKI dan mengamalkan ajaran Besar Revolusi Bung Karno.

Orde Baru Soeharto

biografi Soeharto
biografi Soeharto

Setelah sukses dengan karir militernya, melalui surat Perintah Sebelas Maret tahun 1967 Soeharto mulai menggantikan kedudukan Soekarno menjadi Presiden. Satu tahun kemudian pada Maret 1968 Soeharto ditetapkan  dan dikukuhkan sebagai Presiden kedua oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara.

Dimulailah masa pemerintahan Soeharto yang dinamakan Orde Baru dimana kebijakan politik baik dalam dan luar negeri diubah oleh Presiden Soeharto. Salah satunya adalah kembalinya Indonesia sebagai anggota PBB (Perserikatan Bangsa Bansa) pada tanggal 28 September 1966 setelah sebelumnya pada masa Soekarno, Indonesia keluar sebagai anggota PBB.

Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Pengucilan politik dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak.

Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat “dibuang” ke Pulau Buru bahkan sebagian yang terkait atau masih pendukung dari Partai PKI dihabisi dengan cara dieksekusi massal di hutan oleh militer pada waktu itu. Program pemerintah Soeharto diarahkan pada upaya penyelamatan ekonomi nasional, terutama stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi.

Pertumbuhan Ekonomi di Masa Soeharto

Dalam biografi Soeharto banyak dijelaskan bahwa di masa orde baru, hal pertama yang menjadi fokus Soeharto saat itu adalah perbaikan ekonomi. Kiblat ekonomi yang digunakan oleh Soeharto pada saat itu adalah tim ekonom didikan Barat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia berhasil naik dengan pesat bahkan berhasil melakukan swasembada pangan pada dekade 1980 an. Hal ini membuat Soeharto dijuluki Bapak Pembangunan. Stabilisasi ekonomi yang dimaksud saat itu adalah mengendalikan inflasi agar harga barang-barang tidak melonjak terus.

Rehabilitasi ekonomi adalah perbaikan secara fisik sarana dan prasarana ekonomi. Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem ekonomi berencana yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Program stabilsasi ini dilakukan dengan cara membendung laju inflasi. Dan pemerintahan Soeharto berhasil membendung laju inflasi pada akhir tahun 1967-1968, tetapi harga bahan kebutuhan pokok naik melonjak.

Jika sekarang kita mengenal istilah Keluarga Berencana, itu merupakan salah satu peninggalan program yang dicanangkan dimasa pemerintahan Soeharto di bidang kesehatan. Program ini  membuat Indonesia mendapat penghargaan dari PBB sebagai negara percontohan.

Soeharto Sebagai Bapak Pembangunan

Kebarhasilan Soeharto di masa pemerintahannya membuat dirinya dijuluki “Bapak Pembangunan”. Dalam bidang politik Soeharto melakukan pemangkasan partai-partai politik, hingga munculah Partai Golongan Karya sebagai partai dominan saat itu.

Golkar menjadi partai yang selalu memenangkan pemilihan umum pada masa orde baru tanpa adanya partai oposisi. Kebijakan di bidang politik inilah yang memunculkan keluhan di masyarakat. Hal ini memunculkan kesan anti demokrasi dan otoliter di kalangan masyakarat.

Hingga pada puncaknya terjadilah peristiwa penting di tanggal 15 Januari 1974 yang lebih dikenal dengan istilah malari (malapetaka lima belas januari). Dimana massa turun ke jalan menolak modal asing yang selama ini menjadi salah satu pilar program ekonomi Soeharto.

Masalah yang lain pun berdatangan. Terjadi krisis moneter dan ekonomi berkepanjangan yang mendera kawasan Asia pada tahun 1997. Demonstrasi demi demonstrasi pun terjadi. Hingga demonstrasi terbesar terjadi pada tahun 1998 yang dilakukan oleh mahasiswa.

Jatuhnya Pemerintahan Soeharto

Demonstrasi besar-besaran  yang terjadi oleh Mahasiswa di tahun 1998 inilah yang mengakibatkan kondisi tanah air menjadi genting.  Saat itulah Soeharto dipaksa turun dari jabatannya sebagai presiden. Titik kejatuhan Soeharto, ketika pada tahun 1998 dimana masa tersebut merupakan masa kelam bagi Presiden Soeharto dan masuknya masa reformasi bagi Indonesia.

Dengan besarnya demonstrasi yang dilakukan oleh Mahasiswa serta rakyat yang tidak puas akan kepemimpinan Soeharto. Selain itu makin tidak terkendalinya ekonomi serta stabilitas politik Indonesia maka pada tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.05 WIB Pak Harto membacakan pidato “pernyataan berhenti sebagai presiden RI” setelah runtuhnya dukungan untuk dirinya.

Soeharto telah menjadi presiden Indonesia selama 32 tahun. Sebelum dia mundur, Indonesia mengalami krisis politik dan ekonomi dalam 6 sampai 12 bulan sebelumnya.

BJ Habibie selaku wakil presidennya lah yang melanjutkan setidaknya setahun dari sisa masa kepresidenannya sebelum kemudian digantikan oleh Abdurrahman Wahid pada tahun 1999. Kejatuhan Suharto juga menandai akhir masa Orde Baru, suatu rezim yang berkuasa sejak tahun 1968 atau selama 32 Tahun.

Akhir Hayat Soeharto

Setelah memutuskan turun dari jabatan Presidennya di tahun 1998. Soeharto pun pulang bersama anak-anaknya ke kediamannya di jalan Cendana. Beliau harus meletakkan jabatan secara tragis, bukan semata-mata karena desakan demonstrasi mahasiswa (1998), melainkan lebih akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya yang sebelumnya ABS dan ambisius tanpa fatsoen politik.

Saat beliau baru meletakkan jabatan, ada rumor yang berkembang. Seandainya Pak Harto mendengar hati nurani isteri yang dicintainya, Ibu Tien Soeharto, yang konon, sudah menyarankannya berhenti sekitar sepuluh tahun sebelumnya. Pasti kepemimpinnya tidak berakhir dengan berbagai hujatan yang memojokkannya seolah-olah ia tak pernah berbuat baik untuk bangsa dan negaranya.

Dalam pidato pengunduran dirinya beliau juga menyatakan bahwa tidak adanya dukungan untuk membentuk kabinet reformasi. Beliau tidak ingin terjadi banyak pertumpahan darah akibat demonstrasi mahasiswa dan ABRI.

Ketika sampai di kediaman usai melepas jabatnnya, sebelum duduk di ruang keluarga, Pak Harto mengangkat kedua belah tangan sambil mengucap: “Allahu Akbar. Lepas sudah beban yang terpikul di pundakku selama berpuluh-puluh tahun.“ Kemudian, putera-puteri dan keluarga menyalaminya.

Kontrovesi Keluarga Cendana

Selepas turun dari jabatannya, tak sedikit masyarakat Indonesia yang menilai sebelah mata keluarga Soeharto atau keluarga Cendana. Mereka tidak segan-segan memosisikan Pak Harto dan keluarga Cendana ibarat keranjang sampah.

Tempat pembuangan semua yang kotor. Bahwa semua kekotoran pada era Orde Baru ditimpakan ke pundak Pak Harto dan keluarganya. Sepertinya, HM Soeharto dan keluarganya sebagai satu-satunya yang melakukan korupsi pada era itu.

Kala itu Soeharto diasingkan dari Golkar yang dibesarkannya. Mirisnya lagi para elit-elit Golkarlah yang  lebih dulu teriak agar Soeharto ditahan karena kejahatan-kejahatan yang dituduhkan kepadanya selama memerintah.

Golkar yang sebelumnya lebih didonimasi pengaruh ABRI tampak bergeser lebih didominasi elit-elit ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tampaknya, itulah puncak pengkhianatan beberapa mantan menteri dan elit Golkar yang dibesarkannya.

Kendati Pak Harto tidak pernah mengatakan secara eksplisit bahwa mereka ini mengkhianatinya. Tapi sikapnya yang sampai hari ini belum bersedia menerima kunjungan BJ Habibie dan beberapa mantan menteri dan elit Golkar lainnya bisa dipahami berbagai pihak sebagai indikasi ke arah itu.

Pak Harto pun tetap menunjukkan ketabahan dan keteguhannya. Beliau akhirnya sempat diadili dengan tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana yayasan-yayasan yang didirikannya. Beliau juga menyatakan bersedia mempertanggungjawabkan dana yayasan itu. Tapi, ia pun jatuh sakit yang menyebabkan proses peradilannya dihentikan.

Wafatnya Soeharto

Presiden Republik Indonesia Kedua, Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Jenderal Besar yang oleh MPR dianugerahi penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta.

Berita wafatnya Pak Harto begitu akrab sapaan Soeharto, pertama kali diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta. Kemudian secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ.

Kemudian sekira pukul 14.40, jenazah Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta. Ambulan yang mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal. Adapun sejumlah wartawan ramai mencari informasi tersebut.

Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Isak tangis warga pecah begitu rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekira pukul 14.55 WIB.

Sementara itu, Presiden RI kala itu yakni Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta. Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI Kedua Haji Muhammad Soeharto.

Jasa-jasa Soeharto

Jika direnungkan banyak jasa-jasa besar yang dilakukan Soeharto untuk pembangunan dan perkembangan Indonesia dimata dunia Internasional ya sahabat diary. Sebagian rakyat yang pernah hidup di zaman Presiden Soeharto menganggap zaman Soeharto merupakan zaman keemasan Indonesia loh.

Bagaiman tidak, harga-harga kebutuhan pokok yang murah dimasa itu yang berbanding terbalik dengan zaman sekarang ini. Pertumbuhan ekonomi yang stabil, Presiden Soeharto berhasil merubah wajah Indonesia yang awalnya menjadi negara pengimpor beras menjadi negara swasembada beras dan turut mensejahterahkan petani.

Sektor pembangunan dimasa Presiden Soeharto dianggap paling maju melalui Repelita I sampai Repelita VI. Keamanan dan kestabilan negara yang terjamin serta menciptakan kesadaran nasionalisme yang tinggi pada masanya.

Di bidang kesehatan, upaya meningkatkan kualitas bayi dan masa depan generasi ini dilakukan melalui program kesehatan di posyandu dan KB, sebuah upaya yang mengintegrasikan antara program pemerintah dengan kemandirian masyarakat.

Di jamannya, program ini memang sangat populer dan berhasil. Banyak ibu berhasil dan peduli atas kebutuhan balita mereka di saat paling penting dalam periode pertumbuhannya. Sahabat diary mungkin bisa tanya ke para orang tua makmurnya Indonesia di masa pemerintahan Pak Harto dulu loh sahabat diary.

Itulah sekelumit jasa-jasa atau prestasi dari presiden Soeharto meskipun disamping jasa-jasanya tersebut banyak juga kegagalan di pemerintahannya seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme di masanya, pembangunan yang tidak merata antara pusat dan daerah sehingga memunculkan kecemburuan dari daerah seperti Papua.

Dari banyaknya jasa presiden Soeharto tersebut sehingga banyak yang mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan nasional Indonesia. Terlepas dari sejumlah pihak yang masih mempermasalahkan sejumlah kasus hukum Soeharto, fakta di dalam sejarah Indonesia menunjukkan bahwa Soeharto memiliki jasa besar kepada Indonesia.

Perjuangan Soeharto untuk Indonesia yang tercatat dalam buku sejarah bangsa ini, antara lain, pada masa revolusi fisik antara 1945 hingga 1949, pascarevolusi fisik antara 1962 hingga 1967 dan masa kepemimpinannya sebagai presiden

Kesimpulan

Itulah artikel mengenai biografi Soeharto sebagai Presiden Kedua dan Bapak Pembangunan Indonesia. Beliau merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam kemajuan bangsa ini. bagaimana tidak, selama 32 tahun beliau berhasil memimpin bangsa yang besar akan penduduknya dan beragam budaya ini.

Tak sedikit rakyat kecil yang mengagumi sosok pak Harto, namun ada pula yang menilai beliau negatif. Bagaimanapun beliau, sebagai rakyat yang baik kita harus mampu menghargai jasa setiap pejuang bangsa ini ya sahabat diary. Semoga artikel ini bisa menjadi referensi dan juga sebagai bahan pelajaran bagi sahabat diary ya.

Ketahui juga Biografi Tokoh, Profil Negarawan dan Tokoh Terkenal Indonesia berikut ini: