Biografi RA Kartini : Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia

0
14
biografi RA Kartini
biografi RA Kartini

diarylounge.com, Sahabat diary pasti sudah sering mendengar biografi RA Kartini. Wanita yang namanya mengharumkan perjuangan bangsa Indonesia. Siapakah dan bagaimanakah sososk RA Kartini sesungguhnya? Beliau adalah seorang wanita yang menjadi pahlawan bangsa.

Bukan karena dirinya mahir angkat senjata atau berhasil usir penjajah dari Indonesia. Tapi berkat jasanya yang mulia sangatlah bermanfaat bagi generasi muda saat ini. Salah satu karyanya yang sangat populer adalah buku yang dituliskan beliau berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.

Sejak mengenyam pendidikan di sekolah dasar, sahabat diary pasti sering mendengar bahkan menghafal lagu ‘Ibu Kita Kartini’ dengan irama dan lirik yang indah. Potongan lagu tersebut merupakan lagu persembahan Indonesia untuk kemuliaan dan perjuangan ibu Kartini di era penjajahan.

Beliau sungguh layak diabadikan dalam sebuah lagu serta goresan sejarah bangsa ini.  RA Kartini adalah salah satu pahlawan wanita Indonesia yang berjuang untuk rakyat Indonesia di masa penjajahan. Beliau merupakan sosok wanita terdidik yang memiliki harapan besar kelak bangsanya tidak lagi membedakan gender.

Meski hal tersebut menimbulkan kontroversi dan protes oleh beberapa kalangan di Indonesia. Kartini terkesan lebih diistimewakan dari Pahlawan wanita Indonesia lainnya di berbagai belahan nusantara seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Maria Tiahahu, Rohana Kudus, yang beberapa diantara mereka telah ikut berperang langsung dengan para penjajah Belanda, dibandingkan Kartini yang hanya menulis.

RA Kartini berjuang semasa hidupnya dengan gigih memperjuangkan emasipasi kaum wanita. Di masa itu wanita tidaklah dihargai, tidak boleh mendapatkan pendidikan yang layak. Peran seorang wanita di Indonesia yang hanya harus di rumah mengurus suami, anak dan memasak. Itulah yang memotivasi dirinya untuk berjuang membela kaumnya.

Beliau sosok wanita cerdas dan pemberani hingga  yang dilakukan memberi arti besar bagi wanita Indonesia hingga saat ini. Berikut Biografi RA Kartini, pahlawan wanita Indonesia yang patut dikenang sepanjang masa.

Biografi singkat

Nama asli : Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat

Nama panggilan : Raden Adjeng Kartini

Tempat lahir : Jepara Jawa Tengah

Tanggal lahir : 21 April 1879

Wafat : 17 September 1904, Kabupaten Rembang

Ayah : Raden mas Adipati Ario Sosroningrat

Ibu : M.A Ngasirah

Garis keturunan : Hamengkubuwono VI

Pasangan : K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat

Anak : Soesalit Djojoadhiningrat

RA Kartini Merupakan Keturunan Bangsawan

biografi RA Kartini saat kecil
biografi RA Kartini

Akrab disapa dengan Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini beliau memiliki nama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Lahir di Mayong, Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879. Hingga saat ini, di setiap tahun tanggal kelahirannya menjadi momentum yang diperingati bagi seluruh rakyat Indonesia.

Beliau berasal dari garis keturunan bangsawan di Jawa Tengah, oleh sebab itu ia memperoleh gelar RA (Raden Ajeng) pada nama depannya sebelum menikah. Namun ketika telah menikah gelarnya menjadi Raden Ayu.

Ayahnya bernama Raden mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan seorang bupati Jepara. Sedangkan Ibunya bernama M.A Ngasirah yang merupakan putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono yang merupakan seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Jika dilihat dari silsilah ayahnya masih merupakan garis keturunan Sultan Hamengkubuwono VI.

Kartini merupakan anak ke 5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandungnya Kartini adalah anak perempuan tertua. Pangeran Ario Tjondronegoro IV yaitu kakek dari RA Kartini dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.

Kakeknya telah diangkat menjadi bupati pada usia 25 tahun. Selain sang kakek, Sosrokartono yang juga kakak Kartini adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Jejak Pendidikan RA Kartini

Kisah biografi RA Kartini berlanjut pada kisah pendidikannya. Berasal dari keluarga bangsawan, Kartini memiliki peluang bersekolah. Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School) hingga usianya 12 tahun.

Di sanalah Kartini banyak belajar tentang bahasa Belanda bertemu dengan banyak teman-teman wanita seusianya yang berasal dari keturunan Belanda. Beliau bersekolah hanya sampai sekolah dasar. Tetapi setelah usianya 12 tahun, beliau harus tinggal di rumah karena harus dipingit.

Kartini sangat berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya, tetapi tidak diizinkan oleh orangtuanya. Sebagai seorang gadis, Kartini harus menjalani masa pingitan hingga sampai waktunya untuk menikah. Hal itu merupakan suatu adat yang ada di daerahnya dan harus dijalankan pada waktu itu. Kartini hanya dapat memendam keinginannnya untuk bersekolah tinggi.

Meski kisah perjalanan sekolah RA Kartini tidak panjang dan sesuai harapannya namun beliau adalah sosok wanita cerdas dan kritis. Beliau banyak mengetahui hal tentang kesetaraan gender, bahkan hal-hal umum yang di dapatkan dari bacaan-bacaannya. Sesungguhnya Kartini sangat ingin melanjutkan bersekolah, tetapi beliau memilih patuh kepada adat serta orang tuanya untuk dipingit dan siap dinikahi.

Biografi RA Kartini Memperjuangkan Emansipasi Wanita

Awal Ketekunan Belajar Kartini

Dengan berbekal kemampuan berbahasa Belanda yang baik dan bagus, Kartini belajar menulis surat dengan bahasa Belanda. Beliaupun mencoba mengirimkan surat-surat nya kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Kartini tertarik dengan pola fikir para perempuan Eropa yang berfikir untuk kemajuan.

Meskipun sejak usia remaja RA Kartini sudah tidak diizinkan bersekolah karena harus dipingit dan dinikahkan. Namun semangatnya agar kaum wanita bisa mengenyam pendidikan yang memumpuni membuatnya terus berjuang. Kartini sangat gemar membaca buku, koran dan majalah Eropa.

Hobinya Membaca Memberikan Ilmu

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.

RA Kartini memang sangat pandai dan suka membaca bacaan yang isinya cukup berat. Seperti saat usianya belum 20 tahun, Kartini telah membaca judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus, karya Van Eeden, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner.

Sejak saat itu pola berfikir Kartini semakin terbuka. Beliau membandingkan keadaan wanita di Eropa dengan wanita Indonesia. Sejak itu, timbullah keinginan beliau untuk memajukan perempuan pribumi yang pada saat itu berada pada status sosial yang rendah.

Kartini berkeinginan wanita Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak sehingga bisa berfikir lebih maju. Dengan itu beliau berharap peran dan poisis wanita di Indonesia tidak lagi tertimpang dengan laki-laki.

Perjuangan Kartini Lewat Tulisan dan Surat-suratnya

Dengan semangat juangnya menuntuk hak kesetaraan gender bagi kaumnya. Kartini kemudian menyikapi dengan langkah-langkah yang pasti untuk mengubah pandangan akan peran wanita di negaranya. Beliau berjuang lewat surat-surat dan tulisannya. Dari banyaknya surat yang dikirimkan oleh Kartini, Rosa Abendanon adalah salah satu yang merespon surat tersebut dan banyak mendukung.

Dalam surat-suratnya itulah Kartini menyampaikan cita-citanya untuk menuntut persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita di negaranya. Kartini banyak bercerita tentang kondisi perempuan pribumi. Beliau juga mengeluhkan tentang budaya Jawa yang dirasa menghambat kemajuan perempuan.

Beliau ingin dirinya dan kaum wanita di negaranya bebas untuk menuntut ilmu dan belajar menempuh pendidikan setinggi-tingginya.
Kartini menceritakan pada temannya bahwa ia ingin menjadi seperti kaum muda Eropa dalam hal kebebasan mendapat pendidikan.

Tidak seperti perempuan Jawa yang tidak bisa menempuh pendidikan tinggi, harus dipingit di dalam rumah serta harus mau dijodohkan dengan laki-laki yang tidak dikenal, bahkan harus mau dimadu pula.

Setelah beberapa kali mengirimkan tulisannya,  akhirnya dimuat di De Hollandsche Lelie, sebuah majalah terbitan Belanda yang selalu ia baca. Perhatiannya tidak hanya persoalan emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

RA Kartini Mulai Membuat Taman Baca

Kartini juga mendirikan sebuah sekolah yang ditujukan untuk para gadis di daerah Jepara, karena pada saat itu beliau tinggal di Jepara. Kartini hanya memiliki murid berjumlah 9 orang yang terdiri dari keluarga dekat dan kerabatnya. Itulah merupakan bentuk upayanya nyata beliau mengejar harapan bagi generasi wanita bangsa ini.

Kartini melawan diskriminasi Belanda terhadap pribumi dan kesewenang-wenangan Belanda lewat suratnya kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, akhirnya mampu menggugah hati pemerintah Belanda dan membangun pendidikan di Jawa. Kartini adalah anak kaum bangsawan, bisa dibilang seorang borjuis kecil, tapi kemudian dia memilih sendiri turun menjadi proletar.

Pernikahan RA Kartini Hingga Wafatnya

biografi RA Kartini di masa pernikahannya
biografi RA Kartini di masa pernikahannya

Masa Pernikahan RA Kartini

Berkat kecerdasan dan kegigihannya Kartini sempat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda karena tulisan-tulisan hebatnya. Hanya saja sang ayah Raden mas Adipati Ario Sosroningrat pada saat itu melarangnya dan memutuskan agar Kartini harus menikah.

RA Kartini kemudian dijodohkan dan menikah dengan R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat. Suami Kartini merupakan seorang Bupati di Rembang kala itu yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Sejak itu pula beliau harus hijrah dari Jepara ke Rembang mengikuti suaminya.  

Suaminya sangatlah mengerti keinginan Kartini dan memberikan kebebasan serta dukungan untuk mendirikan sekolah wanita yang lokasinya berada di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Kartini memiliki seorang anak lelaki bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang dilahirkan pada tanggal 13 September 1904. Namun hanya selang beberapa hari setelah melahirkan, Kartini meninggal dunia pada tanggal 17 September 1904. Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Beliau dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Didirikannya Sekolah Kartini

Setelah kepergiannya, perjuangan RA Kartini membuahkan hasil manis. Pada tahun 1912 didirikan sekolah wanita oleh Yayasan Kartini di kota Semarang. Sekolah tersebut diberi nama Sekolah Kartini untuk menghormati jasa-jasanya.

Yayasan tersebut milik keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis di era kolonial Belanda. Sekolah wanita itupun juga didirikan di Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. 

Buku-buku RA Kartini

Habis Gelap Terbitlah Terang

Selain itu setelah Kartini wafat, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia-Belanda yaitu Mr. J. H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dikirimkan Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Setelah dikumpulkan, surat-surat ini kemudian dibukukan dengan judul

Door Duisternis tot Licht. Pada 1922, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pada 1938, buku tersebut diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Arjimin Pane membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ditujukan untuk memperlihatkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi.

Selain itu menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi alasan surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat RA Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda.

Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya

Sulastin Sutrisno juga merupakan penerjemah surat-surat RA Kartini. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda. Namun saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972 ia menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut. Kemudian, pada 1979 sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.

Dalam biografi RA Kartini buku versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya”. Selain diterbitkan dalam Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.

Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904

Buku lainnya yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Buku ini pun tak terlepas dari kisah panjang biografi RA Kartini dalam masa perjuangannya.

Joost Coté tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon, melainkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir.

Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.

Pada buku ini, dapat ditemukan surat-surat yang isinya tergolong lebih sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté bertujuan untuk mengungkap seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya.

Panggil Aku Kartini Saja

Sang pujangga yang fenomenal namanya seperti Pramoedya Ananta Toer juga tertarik mengulas kisah perjuangan biografi RA Kartini. Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan yaitu “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer.

Buku Panggil Aku Kartini Saja terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan oleh Pramoedya.

Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya

Akhir tahun 1987, Sulastin Sutrisno memberi gambaran baru tentang Kartini lewat buku Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya. Dalam buku tersebut lebih menggambarkan kisah RA Kartini sebagai pejuang emansipasi yang sangat maju dalam cara berpikir dibanding perempuan-perempuan Jawa pada masanya.

Dalam surat RA Kartini yang dikirim pada tanggal 27 Oktober 1902, dikutip bahwa Kartini menulis pada Nyonya Abendanon bahwa dia telah memulai pantangan makan daging, bahkan sejak beberapa tahun sebelum surat tersebut, yang menunjukkan bahwa Kartini adalah seorang vegetarian. 

Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903

Biografi RA Kartini lainnya juga tertuang dalam sebuah buku kumpulan surat-surat beliau kepada Stella Zeehandelaar pada periode 1899-1903 yang diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isi dalam buku ini menarik karena memperlihatkan wajah lain Kartini.

Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.

“Aku Mau …” adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.

Sikap Tauladan Dari Biografi RA Kartini

Dalam tiap rangkaian kisah biografi RA Kartini digambarkan beliau merupakan sosok pahlawan wanita yang berani. Kecerdasannya menimbulkan keberanian dalam menuntut hak perempuan. Biografi RA Kartini sangat baik, terutama sifat-sifat beliau. Berikut 5 teladan R.A. Kartini yang patut untuk ditiru :

1. Sederhana

Sifat dan sikap sederhana pada diri Kartini tentu sudah sangat tergambar. Merupakan anak dari Raden Mas Adipati Sosroningrat yang menjabar sebagai bupati Jepara saat itu. Serta berasal dari kalangan bangsawan, RA Kartini tidak berpangku tangan dan diam saja di rumah. Beliau bergaul dan berteman dengan siapapun, sehingga dikenal sebagai perempuan yang merakyat.

R.A. Kartini juga sangat menolak keras perilaku para bangsawan lain, yang mana mereka menggunakan derajat dan status untuk menindas kaum di bawahnya. Hal inilah yang membuat beliau sangat disenangi oleh rakyat. Beliau juga sangat jauh dari sifat berfoya-foya maupun bermewah-mewahan. Bahkan ketika menikah, beliau tidak mengenakan baju mewah pernikahan dan tidak menggelar pesta.

2. Berani Dan Optimis

Sudah jadi hal biasa bagi Kartini mendapat penentangan oleh masyarakat sekitarnya sebab dirinya memiliki pandangan yang berbeda mengenai perempuan. Menurut Kartini perempuan juga harus keluar rumah, belajar dan mengejar cita – cita.

Bukan hanya berada di dalam rumah sehingga menutup kesempatan bagi perempuan untuk melihat dunia. Atau yang disebut dengan budaya pingit. Hal itulah yang membuat beliau berani membuka sebuah tempat belajar khusus untuk mendidik perempuan dan anak-anak.

Tidak hanya itu, beliau sangat optimis bahwa tindakannya tersebut akan memberikan dampak yang besar di masa mendatang. Terbukti sudah hingga kini, perjuangan beliau bukan hal yang sia-sia. Beliau masih selalu dikenang dengan karya-karya terbaik yang pernah diberikan untuk Indonesia khususnya perempuan Indonesia.

3. Mandiri atau Independen

Sifat mandiri R.A. Kartini juga menjadi salah satu yang patut di tauladani. Beliau memiliki dan mencari berbagai cara sehingga beliau bisa berpengaruh bagi sekitarnya. Padahal saat itu kondisi beliau masih dalam keadaan dipingit dan sungguh terbatas dalam gerak. Meskipun tidak disekolahkan tinggi, beliau tekun belajar dengan caranya sendiri. Yaitu dengan menulis surat kepada para sahabat penanya. Serta belajar pengalaman dari para sahabatnya. Alhasil, beliau dapat membangun sekolah Perempuan Pertama di Jawa.

4. Cerdas Dan Berwawasan Luas

Sejak berkirim surat dengan para sahabat penanya yang berada di luar negeri. Wawasan Kartini menjadi lebih terbuka. Beliau semakin berfikir bahwa perempuan tentunya memiliki hak yang sama dengan laki – laki. Baik dalam hal pendidikan, bekerja hingga berpendapat.

Tidak hanya belajar melalui teman penanya, beliau juga belajar dari semua hal yang dialaminya. Kemudian dengan jiwa pendidik nya itu lah beliau mengajarkan kepada anak-anak didiknya. Mulai dari baca tulis, memasak, melukis, menjahit dan masih banyak lagi. Semua beliau tularkan kepada anak-anak dan perempuan Indonesia.

5. Inspiratif

Semua yang dilakukan oleh RA Kartini menunjukkan keihklasan dan kesungguhan. Siapa yang akan menyangka jika tindakan yang dilakukannya di masa lalu akan dapat menginspirasi kita hingga kini. Beliau menularkan pandangan baru kepada orang sekitarnya sehingga mampu membuat orang lain melakukan sesuatu.

Semua hal positif yang dilakukannya sangat berdampak baik kepada kita sekarang. Itulah biografi RA Kartini secara lengkap beserta teladan-teladan yang bisa kita ikuti ya sahabat diary. Semoga dengan mengetahui biografi RA Kartini, sahabat diary yang wanita mampu menjadi generasi penerus yang memiliki sifat-sifat layaknya Kartini.

Hingga saat ini kita tahu bahwa jasa R.A. Kartini sangatlah besar bagi Bangsa ini. Kalau saja RA Kartini pada zaman seperti itu mempu memberikan sesuatu perubahan yang besar bagi bangsa Indonesia. Tentulah sahabat diary yang kini hidup dengan berbagai kemudahan serta teknologi canggih lebih mampu memberikan sesuatu yang besar bagi Bangsa ini.