Biografi Mohammad Hatta : Wakil Presiden Pertama – Tokoh Proklamator Kemerdekaan Indonesia

0
23
biografi Mohammad Hatta
biografi Mohammad Hatta

diarylounge.com, Biografi Mohammad Hatta yang kali ini akan kita ulas pada artikel ini ya sahabat diary. Jika mendengar nama Soekarno sebagai tokoh proklamator tentu akrab dengan sosok bung Hatta begitu sapaannya.

Mohammad Hatta merupakan tokoh yang sangat bersahaja dan sederhana hingga akhir hayatnya. Peran Mohammad Hatta dalam merintis dan membawa Indonesia merdeka sangat besar. Tak heran banyak yang mengidolakannya.

Mohammad Hatta atau Bung Hatta sangat disegani oleh masyarakat Indonesia, mengingat perjuangannya terhadap kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Terlebih lagi beliau memiliki sifat yang merakyat. Bahkan beliau disebut sebagai salah seorang “The Founding Father’s of Indonesia”. Tidak hanya itu, biografi Moh Hatta serta kisahnya saat masih kecil hingga dewasa telah ditulis dan dibukukan.

Bung Hatta adalah seorang negarawan, ekonom, pejuang proklamasi, dan Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Beliau menjaga stabilisasi negara pascakemerdekaan, terutama dalam bidang politik dan ekonomi. Ingin tahu kiprahnya? Simak dalam artikel biografi dan profil Moh Hatta lengkap berikut ya sahabat diary.

Nama Lengkap : Dr. Drs. H. Mohammad Hatta, Mohammad Athar

Nama panggilan : Bung Hatta

Tempat, Tanggal Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902

Agama : Islam

Orang Tua : Muhammad Djamil (ayah), Siti Saleha (ibu)

Istri : Rahmi Rachim

Anak : Meutia Hatta, Halida Hatta, Des Alwi, Gemala Hatta

Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980

Pendidikan : ELS (Europeesche Lagere School) di Bukittinggi (1916), MULO (Meer Uitgerbreid Lager Onderwijs) di Padang (1919), Handel Middlebare School (Sekolah Menengah Dagang) di Jakarta (1921), dan Nederland Handels Hoge School, Rotterdarm Belanda (1932)

Masa Kecil Mohammad Hatta

Banyak buku yang mengulas biografi Mohammad Hatta. Lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah itulah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya yang bernama Siti Saleha. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta masih berusia delapan bulan.

Mohammad Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Nama asli beliau adalah Mohammad Athar. Bung Hatta dilahirkan dan dibesarkan di keluarga taat beragama. Kakeknya yang bernama Abdurahman Batuhampar merupakan Ulama pendiri masjid yang cukup kokoh.

Pendidikan Bung Hatta

biografi Mohammad Hatta
biografi Mohammad Hatta

Bung Hatta memulai pendidikan dasarnya di ELS (Europeesche Lagere School). Sejak duduk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Beliau kerap mendatangi ceramah dan perkumpulan politik lokal yang diadakan oleh Sarekat Indonesia. Selain itu, Athar juga mulai mempelajari bahasa Belanda.

Seusai sekolah di Padang, sempat terjadi perdebatan di keluarga Hatta untuk memutuskan kelanjutkan pendidikannya. Kakek dari keluarga ayah kandungnya berencana akan membawanya ke Arab untuk menimba ilmu agama. Tapi hal tersebut ditentang oleh keluarga ibunya, mereka menyarankan Hatta untuk pindah ke Batavia (kini Jakarta) saja.

Bersekolah di HBS

Akhirnya, Hatta pindah ke Jakarta untuk bersekolah di HBS (Hogere Burger School) dan diasuh oleh Mak Eteb Ayub, seorang pengusaha dari Minang yang masih merupakan pamannya. Di bawah asuhan pamannya tersebut, kebiasaan membaca buku Hatta dimulai.

Pada tahun 1921, Hatta lulus dari HBS dan mendapatkan beasiswa untuk belajar di Handels Hogeschool (kini Universitas Erasmus Rotterdam). Pada saat mengenyam pendidikan di Belanda ini, Hatta aktif terlibat dengan beberapa pergerakan politik yang ada di Belanda. Hingga akhirnya pada 1932, beliau lulus dan menjadi sarjana ekonomi.

Masa Studi Hatta di Negeri Belanda

Pada tahun 1921 Bung Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar di Handels Hoge School, Rotterdam. Selama melanjutkan pendidikan tingginya, beliau mengikuti organisasi sosial dan bergeser menajdi organisasi politik karena adanya 3 serangkai yang sedang diasingkan di negeri Belanda.

Bersama Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangoenkoesoemoe, organisasi tersebut bernama Isdische Vereniging yang kemudian pada 1922 berganti nama menjadi Indonesische Vereniging dan berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia.

Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik. Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926.

Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen” Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.

Penulis Majalah

Bung Hatta menjadi bendahara sekaligus pembimbing sebuah majalah bernama Hindia Putera. Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota.

Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Pada tahun 1923 Bung Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan). Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI.

Bung Hatta dalam Perhimpunan Indonesia

Pada masa itu Bung Hatta memimpin Perhimpunan Indonesia (PI) yang mengakibatkan keterlambatan dalam menyelesaikan pendidikannya. Pada tahun yang sama, beliau juga didatangi oleh Semaun, anggota PKI yang kemudian tercipta sebuah perjainjan bernama Konvensi Semaun-Hatta. Konvensi tersebut menyebabkan Hatta dimusuhi oleh Pemerintah Belanda.

Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia (PI). Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia.

Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.

Mengenalkan Indonesia

Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional.

Mohammad Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927.

Pengalaman Di Organisasi

Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu.

Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).

Karena hal itulah Mohammad Hatta bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan.

Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama “Indonesia Vrij”, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka.

Lalu sekitar tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Bung Hatta kembali ke Indonesia

Berdasarkan banyak tulisan biografi Mohammad Hatta, pada tahun 1932 beliau kembali ke tanah air karena telah menyelesaikan studinya di Belanda. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat.

Selain itu ia juga aktif melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya.

Beberapa artikel yang terkenal dan ditulis oleh Bung Hatta adalah “Soekarno Ditahan” terbit 10 Agustus 1933 dan “Tragedi Soekarno” terbit pada 30 November 1933. Semua tulisan Bung Hatta merupakan salah satu reaksi penolakan terhadap Soekarno yang ditahan oleh Pemerintah Belanda, berikut pengasingan Soekarno ke Pulau Flores.

Itu merupakan bentuk dukungan beliau kepada Soekarano agar mendapatkan haknya segera dibebaskan dari hukuman Belanda.

Dipenjara Oleh Belanda

Pemerintah Belanda melanjutkan penangkapan dan pengasingan pada kompeni Partai Pendidikan Nasional Indonesia, yang mana bung Hatta merupakan salah satunya dan mereka ditahan selama satu tahun, kemudian diasingkan ke Boen Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang.

Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.

Diasingkan Ke Boen Digoel

Pada bulan Januari 1935, Mohammad Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan.

Bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal.

Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari. Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan.

Menulis Di Masa Pengasingannya

Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat.

Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.” (empat jilid). Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira pada Januari 1936.

Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.

Masa Kepemimpinan Jepang

1. Awal Kedatangan Jepang

Pada tanggal 3 Februari tepatnya tahun 1942, Bung Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Saat Belanda menyerah dan kekuasaan di Indonesia diambil alih oleh Jepang, Hatta dipanggil kembali ke Jakarta untuk kerjasama dengan diiming-imingi jabatan. Beliau menolak tawaran tersebut dan memilih untuk menjadi penasihat saja.

Tidak hanya beliau, langkah serupa juga diambil oleh pemimpin pergerakan lainnya seperti Soekarno, K.H. Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara. Pemerintah Jepang kemudian menjadikan mereka pemimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera), sebuah organisasi propaganda untuk membantu Jepang dalam perang pasifik.

Sebagai gantinya, atas nama persaudaraan Asia, Indonesia diakui sebagai negara merdeka dan bukan koloni Jepang. Di masa pemerintahan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat.

2. Bantuan Jepang Memerdekakan Indonesia

Saat itu bung Hatta mengutarakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka. Beliaupun bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah.

Namun Mohammad Hatta mengetahui bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Akan tetapi pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak.

Sebab bila Jepang yang fasis mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.

3. Menjadi Penasihat Jepang

Mohammad Hatta bercerita secara lengkap dalam biografi dirinya, pada saat itu dia merasa dilema. Beliau merasa bersalah telah membuat saudara setanah airnya menderita karena romusha, tapi di sisi lain itu merupakan adalah pilihan yang terbaik. Sebab, berbeda dengan Belanda yang masih mau melakukan dialog dan berunding, Jepang cenderung lebih tegas dan kejam.

Hal inilah yang membuat beliau dikecam tokoh-tokoh pergerakan lapangan seperti Tan Malaka dan Alimin Prawirodirjo. Mereka beranggapan bahwa cara yang dilakukan bung Hatta dan lainnya terlalu lembek dan merugikan rakyat.

4. Dibentuknya BPUPKI

Selama bertahun-tahun, tokoh-tokoh dan founding father Indonesia mengusahakan kemerdekaan Indonesia melalui dialog dan diplomasi. Hingga akhirnya mereka berhasil mendesak pemerintah Jepang untuk membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sebuah badan yang dibentuk untuk membahas persiapan kemerdekaan.

Sidang perdana BPUPKI secara resmi digelar pertama kali pada 28 Mei 1945 tersebut menghadirkan berbagai tokoh. Misalnya Mohammad Yamin, Radjiman Wedyodiningrat, Ahmad Soebardjo, Ki Bagoes Hadikusumo, KH Agus Salim, dan lain-lain. Sidang pertama berlangsung pada 28 Mei hingga 1 Juni 1945, sementara sidang kedua berlangsung pada 10 hingga 17 Juli 1945.

Pada sidang pertama, terjadi diskusi alot tentang pembentukan dasar negara. Saat itu para founding father terpecah kedalam dua kubu, nasionalis dan Islam. Usai sidang pertama, dibentuk panitia sembilan yang bertugas mendiskusikan gagasan umum dasar negara yang telah dikemukakan pada rapat pertama dengan lebih detail.

Bung hatta merupakan salah satu dari anggota panitia sembilan tersebut. Hasil diskusi dalam forum kecil ini kemudian menghasilkan sebuah gentleman’s agreement yang kemudian lebih dikenal sebagai Piagam Jakarta. Pada sidang BPUPKI kedua, majelis dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membahas hal-hal yang lebih spesifik.

Menurut biografi Mohammad Hatta secara lengkap, dirinya awalnya tergabung dalam kelompok dengan agenda bahasan hukum tata negara, sementara Moh Yamin di kelompok yang membahas ekonomi. Jadi Soekarno memintanya bertukar posisi, hal itu karena Yamin lebih ahli bidang hukum tata negara.

5. Terbentuknya PPKI

Setelah sidang BPUPKI selesai dan menghasilkan Rancangan Undang Undang Dasar, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Panitia ini berjumlah 21 orang dengan perwakilan dari Jawa 12 orang, Sumatra 3 orang, Kalimantan 1 orang, Sulawesi 2 orang, Nusa Tenggara 1 orang, Maluku 1 orang, dan Tionghoa 1 orang. Panitia ini diketuai oleh Soekarno dan Hatta sebagai wakilnya.

Dalam video berisi biodata Mohammad Hatta milik ANRI, pemerintah Jepang awalnya memutuskan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada 24 Agustus 1945. Akan tetapi menurut pengakuan Bapak Proklamasi tersebut, saat itu dirinya benar-benar merasa senang menunggu datangnya hari tersebut.

Proklamasi

Setelah Jepang kalah oleh sekutu, Indonesia berada di masa kekosongan kekuasaan. Hal itu mendorong golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Perbedaan pendapatpun terjadi diantara kedua golongan tersebut dan berakhir menjadi peristiwa rengasdengklok.

Golongan muda menculik Soekarno dan Hatta ke rengasdengklok. Mereka mendesak keduanya untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peliknya peristiwa tersebut membuat menghasilkan disusunnya teks proklamasi.

Laksamana Maeda menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat menyusun teks proklamasi serta memberikan keamanan. Teks proklamasi disusun oleh Soekarno, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir yang kemudian di ketik oleh Sayuti Melik. Setelah rampung teks tersebut ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta yang hingga kini dikenal sebagai sang proklamator.

Menjadi Wakil Presiden Pertama

biografi Mohammad Hatta
biografi Mohammad Hatta

Setelah diproklmasikan dan Indonesia dinyatakan merdeka, Mohammad Hatta terpilih menjadi wakil presiden RI pertama mendampingi Soekarno. Di masa kepemimpinannya beliau aktif dalam urusan kenegaraan dan sebaginya. Beliau juga banyak mengisi berpidato di berbagai perguruan tinggi. Bung Hatta merupakan sosok yang disegani dan dihormati.

Hingga Pada 1955, Bung Hatta menyatakan mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden karena pada pemerintahan parlementer, wakil presiden sudah tidak diperlukan lagi. Setelah menulis surat sebanyak 2 kali, permintaan Bung Hatta dikabulkan oleh DPR. Beliau lengser dari kedudukannya setelah 11 tahun menjadi Wakil Presiden Indonesia.

Asmara Bung Hatta

Salah satu hal yang menarik untuk disimak dalam bigrafi Mohammad Hatta adalah hubungan asmaranya. Pasalnya, beliau baru menikah ketika usianya sudah menginjak 43 tahun. Usia yang bisa dikatakan cukup terlambat menikah, apalagi jika dibandingkan dengan sahabatnya Soekarno yang sudah menikah sejak umur 20 tahun.

Memang, sumpah Bung Hatta untuk tetap melajang hingga Indonesia merdeka cukup terkenal, setidaknya di kalangan sejarawan. Pada peringatan 100 tahun Moh Hatta, dalam sebuah tayangan yang menampilkan biografi dan profil beliau, diceritakan bahwa setidaknya ada tiga wanita yang berkesempatan untuk jadi istrinya.

Dalam sebuah tulisan biografi berjudul Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman diceritakan bahwa kawan-kawan bung Hatta pernah mencomblangkan beliau dengan seorang wanita asal Polandia. Wanita tersebut juga diceritakan tertarik dengan Hatta. Tetapi setelah makan malam berdua, perempuan tersebut menyerah karena ternyata Hatta tidak tertarik dengan dirinya.

Wanita lainnya yang juga berkesempatan dinikahi oleh Hatta adalah anak perempuan dari Mak Eteb, yaitu Nelly. Saat Mak Eteb dipenjara, Mak Eteb meminta Hatta untuk menikahi anaknya. Pada saat itu dengan berat hati Hatta menolak permintaan itu karena tetap setia pada sumpahnya. Selain itu, salah satu wanita yang mungkin pernah memikat hati Hatta untuk waktu yang cukup lama adalah Anni.

Pernikahan Bung Hatta

Anni merupakan seorang aktifis wanita dan terlibat dalam Konggres Perempuan III di Bandung. Setelah dekat cukup lama, hubungan mereka kandas dan Anni menikah dengan Abdul Rachim. Pernikahan Anni dan Rachim diberkahi dua anak perempuan, salah satunya adalah Rachmi. Wanita yang kemudian dinikahi oleh bung Hatta setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 18 November 1945.

Pernikahan Mohammad Hatta dengan Rachmi dikaruniai dengan tiga orang anak, yaitu Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta. Dari ketiga anak perempuannya, hanya Gemala yang tidak pernah terjun ke dunia politik sama sekali.

Keteladanan Mohammad Hatta

Mohammad Hatta merupakan sosok pahlawan yang memiliki kiprah penting bagi Indonesia sehingga siapapun yang mengetahui biografi Mohammad Hatta pasti akan sangat kagum. Beliau memiliki karakter yang patut untuk kita teladani. Keteladanan Moh Hatta sebagai negarawan ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia sekarang ini.

1. Memiliki prinsip teguh

Moh Hatta memiliki prinsip yang teguh dalam perjuangannya, idealisme yang tinggi serta prinsipnya untuk hidup sederhana, jujur dan sabar. Salah satu contoh keteguhan dirinya adalah ketika dia berjanji tidak akan menikah apabila Indonesia belum merdeka.

2. Berjuang tanpa kekerasan

Dalam perjuangannya, Hatta selalu mengedepankan diplomasi dan perjuangan politik melalui organisasi politik. Kemampuannya berorganisasi ia pelajari di Belanda ketika ia membentuk Indische Vereniging. Organisasi ini berubah menjadi Perhimpunan Indonesia yang diketuai oleh Moh Hatta selama 4 tahun.

3. Bekerja sitematis

Sifat lain yang bisa kita teladani dari Moh Hatta adalah kehati-hatiannya. Beliau selalu hati-hati dan merencanakan apapun dengan matang. 

4. Rajin membaca buku

Merupakan seorang kutu buku, kecintaan Mohammad Hatta dengan buku membuatnya menjadi pribadi yang sangat cerdas dan teliti. Beliau mulai mengoleksi buku sejak umur 17 tahun. Bahkan dia tidak pernah berhenti membaca dan belajar dalam keadaan apapun.

5. Teratur dan tepat waktu

Mohammad Hatta juga merupakan pribadi yang teratur dan tepat waktu terhadap hal kecil sekalipun. Salah satunya adalah ia yang selalu meneteskan obat ke matanya 6 kali sehari tanpa terlewat sedikitpun. Bahkan ia melakukannya selama enam tahun.

Itulah biografi Mohammad Hatta yang bisa kita pelajari sahabat diary. Nah sahabat diary juga tentu tahu bahwa bung Hatta atau Mohammad Hatta juga dikenal dengan banyak julukan. Selain tokoh perjuangan Republik Indonesia, beliau juga bapak ekonomi dan penulis yang handal. Sifat dan sikapnya patut ditauladani oleh kita sebagai generasi penerus bangsa loh sahabat diary.

Berkat perjuangan beliau kita dapat hidup di negara Indonesia tercinta yang bebas dan merdeka seperti saat ini. Maka janganlah kita sia-siakan perjuangan para pahlawan untuk tanah air tercinta ini. Semoga biografi Mohammad Hatta ini bermanfaat untuk sahabat diary semua ya.

Ketahui juga Biografi Tokoh, Profil Negarawan dan Tokoh Terkenal Indonesia berikut ini: