Biografi Ki Hajar Dewantara : Kisah Bapak Pendidikan Indonesia

0
16
Biografi Ki Hajar Dewantara, Sosok Bapak Pendidikan Bangsa
biografi Ki Hajar Dewantara

diarylounge.com, Hai sahabat diary, kita akan ulas biografi Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu pahlawan bangsa Indonesia. Tokoh satu ini dikenal sebagai pelopor pendidikan untuk masyarakat pribumi di Indonesia ketika masih dalam masa penjajahan Kolonial Belanda. Sehingga beliau dijuluki sebagai ‘Bapak Pendidikan Indonesia’.  

Beliau dikenal sebagai seorang penulis, jurnalis, tokoh politik dan pelopor pendidikan bagi bangsa Indonesia di masa penjajahan Belanda. Salah satu semboyan yang ia buat, Tut Wuri Handayani, kemudian menjadi slogan Kemetrian Pendidikan Nasional Indonesia.

Ki Hajar Dewantara adalah sosok dibalik terdirinya taman siswa, lembaga pendidikan yang memberi kesempatan bagi rakyat pribumi saat itu untuk memperoleh pendidikan. Taman Siswa adalah suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Sehingga beliau kemudian diangkat menjadi Menteri Pendidikan Republik Indonesia yang pertama. Ki Hajar Dewantara pun kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional dengan gelar Bapak Pendidikan Nasional.

Biografi singkat

Nama Lengkap : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat

Nama Panggilan : Ki Hadjar Dewantara

Tempat, Tanggal Lahir : Yogyakarta 2 Mei 1889

Wafat : Yogyakarta, 26 April 1959

Agama : Islam

Orang Tua : Pangeran Soerjaningrat (Ayah), Raden Ayu Sandiah (ibu)

Saudara : Soerjopranoto

Istri : Nyi Sutartinah

Anak : Ratih Tarbiyah, Syailendra Wijaya, Bambang Sokawati Dewantara, Asti Wandansari, Subroto Aria Mataram. Sudiro Alimurtolo.

Penididikan : ELS (Europeesche Lagere School), STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera)

Pekerjaan : Jurnalis

Karir : Pendiri perguruan taman siswa

Masa kecil dan Pendidikan Ki Hajar Dewantara

biografi Ki Hajar Dewantara, Sosok Bapak Pendidikan Bangsa
biografi Ki Hajar Dewantara

Masa Kecil dan Keluarga Ki Hajar Dewantar

Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh pendidikan bagi bangsa Indonesia dan juga seorang pahlawan Indonesia. Mengenai biografi Ki Hajar Dewantara sendiri, beliau terlahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.

Beliau berasal dari kalangan keturunan keraton Yogyakarta. Kala usianya genap 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, beliau mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Semenjak saat itulah, beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini bertujuan supaya Ki Hajar Dewantara memiliki kebebasan dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Terlahir dari kalangan keluarga bangsawan Ki Hajar Dewantara lahir di Kota Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei 1889. Hingga saat ini hari kelahirannya kemudian diperingati setiap tahun oleh Bangsa Indonesia dan diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara merupakan putera dari pasangan Pangeran Soerjaningrat dan Raden Ayu Sandiah.

Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Dalam banyak buku menceritakan biografi Ki Hajar Dewantara, tertuliskan beliau pertama kali bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa atau Belanda dan juga kaum bangsawan atau priyayi saat itu.

Setelah lulus dari ELS beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) yaitu sekolah yang dibuat untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda. Namun disayangkan beliau tidak menamatkan pendidikannya di STOVIA karena alasan sakit.

Masa Muda dan Perjalanan Karir Ki Hajar Dewantara

Kiprahnya Sebagai Jurnalis

Biografi Ki Hajar Dewantara benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Seusai tidak menamatkan pendidikan di STOVIA, Biografi Ki Hajar Dewantara pun diisi dengan perjalanan karirnya sebagai jurnalis.

Ki Hadjar Dewantara memang cenderung lebih menyukai dunia jurnalistik atau tulis-menulis. Hal itu beliau buktikan dengan bekerja sebagai wartawan dibeberapa surat kabar pada masa itu antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.

Gaya tulisan Ki Hajar Dewantara yang sangat komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial dan kebangsaan. Tentu menyulutkan kemarahan pemerintah kolonial Belanda. Hal tersebut menyebabkan Ki Hadjar Dewantara ditangkap dan kemudian ia diasingkan ke pulau Bangka dimana pengasingannya atas permintaannya sendiri.

Pengasingan itu juga mendapat protes dari rekan-rekan organisasinya yaitu Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang kini ketiganya dikenal sebagai ‘Tiga Serangkai’. Ketiganya kemudian diasingkan di Belanda oleh pemerintah Kolonial.

Perjuangan Ki Hajar Dewantara

biografi Ki Hajar Dewantara
biografi Ki Hajar Dewantara

Masa Perjuangan di Budi Oetomo

Selain gigih sebagai seorang wartawan muda Ki Hajar Dewantara juga aktif dalam kegiatan organisasi sosial dan politik. Hadirnya Budi Utomo sebagai organisasi sosial dan politik mendorong Ki Hadjar Dewantara untuk bergabung didalamnya.

Pada tahun 1908, Ki Hajar Dewantara aktif di seksi propaganda organisasi Boedi Oetomo. Disanalah beliau bersosialisasi dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Kemudian, bersama dengan Dr. Danudirdja Setyabudhi atau yang lebih dikenal Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hajar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme di Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia.

Mereka berusaha mendaftarkan organisasi tersebut demi memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Namun pemerintah kolonial Belanda menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913.

Pemerintah kolonial Belanda beralasan, bahwa penolakan tersebut karena organisasi Indische Partij dianggap dapat menumbuhkan dan membangkitkan rasa nasionalisme rakyat serta menggerakkan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Gugatan Komite Bumipoetra

Setelah penolakan atas pendaftaran status badan hukum Indische Partij, Ki Hajar Dewantara pun ikut membentuk Komite Boemipoetra pada bulan November tahun 1913. Komite ini juga merupakan komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda.

Komite Boemipoetra melancarkan sebuah kritik kepada Pemerintah kolonial Belanda. Dimana saat itu Kolonial Belanda bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri mereka dari penjajahan Prancis, akan tetapi dengan cara menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Sehubungan dengan rencana perayaan tersebut, Ki Hajar Dewantara mengkritik lewat tulisannya yang berjudul Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga) dan Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda).

Tulisan “Seandainya Aku Seorang Belanda” oleh Ki Hajar Dewantara itu dimuat dalam surat kabar de Expres yang dimotori dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Selaras dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, namun juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.

Gagasan untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama adalah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun”.

Pengasingan Tiga Serangkai

Akibat dari tulisan kritik tersebut, Ki Hajar Dewantara harus menerima hukuman dari pemerintahan kolonial Belanda untuk diasingkan. Pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yakni sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk beliau bertempat tinggal.

Kala itu Ki Hajar Dewantara pun memilih dihukum buang atau diasingkan ke Pulau Bangka. Namun kedua kawan seperjuangan Ki Hajar Dewantara yakni Cipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker merasakan kawan seperjuangannya diperlakukan tidak adil. Sehingga mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Raden Mas Soewardi.

Akan tetapi pihak kolonial menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah Belanda. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Dr. Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda dan dr. Douwes Dekker dibuang di Kupang.

Hingga akhirnya Ki Hajar Dewantara bersama dua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo memilih diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. Ketiganya kemudian dikenal sebagai tokoh ‘Tiga Serangkai’.

Perjuangan Tiga Serangkai

Namun dalam pengasingan di Belanda, Ki Hajar Dewantara tidak ingin dirinya terbelenggu. Beliau tetap aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia bernama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).  Pada tahun 1913 Beliau bahkan mendirikan Indonesisch Pers-bureau atau kantor berita Indonesia.

Berdasarkan sejarah, nama tersebut merupakan penggunama istilah ‘Indonesia’ yang pertama kali secara formal. Banyak ungkapan biografi Ki Hajar Dewantara, sosok bapak pendidikan yang satu ini memang sangatlah gigih dalam menuntut keilmuan.

Di masa pengasingannya di Belanda, Ki Hajar Dewantara menempuh pendidikan tinggi hingga memperoleh Europeesche Akta, ijazah pendidikan bergengsi yang kelak beliau jadikan pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang ingin didirikannya.

Ki Hajar juga mempelajari berbagai ide-ide dari tokoh pendidikan yang berasal dari barat dan India yang menjadi landasan dalam mengembangkan sistem pendidikan Indonesia. Lalu pada tahun 1919, Ki Hajar kembali ke Indonesia dan bergabung dalam sekolah binaan saudaranya.

Kembalinya Ki Hajar Dewantara dan Berdirinya Taman Siswa

Tepat pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia. Perguruan Taman Siswa ini menekankan kepada peserta didiknya mengenai pentingnya rasa kebangsaan supaya mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan.

Tidak sedikit rintangan yang dihadapinya dalam membina Taman Siswa. Kembali pemerintah kolonial Belanda berusaha membatasi dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Namun dengan keteguhan memperjuangkan haknya, akhirnya ordonansi itu kemudian dicabut.

Di tengah keseriusan Beliau dalam dunia pendidikan di Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara juga tetap rajin dan semangat dalam menulis. Tetapi tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke arah pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan.

Karya tulisan hasil Ki Hajar Dewantara berjumlah ratusan. Melalui tulisan-tulisan itulah beliau berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Sementara hal berbeda terjadi pada zaman Pendudukan Jepang.

Perjuangan Ki Hajar Dewantara di Masa Penjajahan Jepang

Sahabat diary tentu sangat hafal dan lumrah ketika belajar sejarah Indonesia saat sekolah kita sangat melihat perbedaan masa penjajahan Belnada dan Jepang terhadap Indonesia. Meski kedua negara tersebut memiliki kekuatan dan tujuan yang sama ingin menguasai bangsa ini, akan tetapi banyak perbedaan perilaku dan aturan yang terjadi.

Saat pemerintahan atau masa penjajahan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Bahkan dalam biografi Ki Hajar Dewantara dijelaskan ketika Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar Dewantara duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.

Ki Hajar Dewantara di Era Kemerdekaan

Setelah masuk pada zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara ditetapkan menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hajar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang mana tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional.

Akan tetapi beliau juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Adapun penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.

Namun dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa.

Hadirnya Museum Dewantara Kirti Griya Sebagai Bentuk Apresiasi

Sebagai bentuk apresiasi didirikanlah Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hajar Dewantara. Pada museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hajar sebagai pendiri Taman Siswa serta berbagai kiprahnya dalam kehidupan berbangsa.

Koleksi dalam museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hajar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.

Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

Semboyan dan Goresan Kalimat Biografi Ki Hajar Dewantara

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia.

Semboyan Ki Hajar Dewantara

1. Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi contoh)
2. Ing madya mangun karsa (di tengah memberi semangat) 
3. Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan)

Kalimat Ki Hajar Dewantara

1. Pendidikan dan pengajaran di dalam RI harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia, menuju ke arah kebahagiaan batin juga keselamatan hidup lahir.
2. Lawan Sastra Ngesti Mulya, artinya Dengan Ilmu Kita Menuju Kemuliaan.
3. Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.
4. Guru adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan bangsa.
5. Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk Bangsa Indonesia dengan Cara Indonesia.

Nah sahabat diary itulah lengkap bigrafi Ki Hajar Dewantara yang merupakan sosok tokoh pahlawan bangsa Indonesia melalui garis keras pemikirannya. Demi membangun pendidikan yang layak dan baik bagi bangsa, beliau melewati panjangnya rintangan melawan pemerintahan penjajah. Hingga kini kita sebagai generasi penerus bangsa dapat menikmati buah manis hasil perjuangan beliau.

Jadi, sahabat diary harus dengan bijak menghargai perjuangan bapak pendidikan negara kita ya. Yuk kita tempuh pendidikan dengan sebaik mungkin dan tuangkan ilmu tersebut bagi kemajuan negara Indonesia. Jangan lupa untuk selalu menjaga rasa nasionalisme dalam diri agar tidak melupakan sejarah perjuangan para pahlawan bangsa.

Selain itu mari heningkan cipta pada hari kelahiran bapak pendidikan yang kini setiap tahun jadi hari pendidikan di Indonesia. Semoga biografi lengkap kisah Ki Hajar Dewantara di atas dapat bermanfaat untuk sahabat diary ya.