Biografi Jendral Sudirman: Sang Panglima Besar TNI Pertama

0
32
biografi Jendral Sudirman
biografi Jendral Sudirman

diarylounge.com, Pasti semua sahabat diary mengenal biografi Jendral Sudirman dong tentunya. Ya, Jendral besar Republik Indonesia yang namanya sangat harum berkat keberanian dan jasanya melawan penjajah. Siapa yang tak kenal sosok beliau, meski telah lama gugur. Jasa beliau masih sangat dikenang di negara ini hingga kini dan sepanjang masa.

Bagaimana mungkin masyarakat Indonesia tidak mengenalnya. Tidak jarang nama beliau dijadikan nama jalan di berbagai daerah, sekolah, museum, universitas, monumen, gedung dan lain-lain. Jendral Sudirman dikenal sebagai salah satu pahlawan Indonesia, dengan jasanya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 

Beliau merupakan salah satu orang dengan pangkat tertinggi dalam militer yakni Jenderal Besar yang memperoleh pangkat bintang lima selain Soeharto dan A.H Nasution. Jendral Sudirman adalah salah satu pahlawan yang ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan mengusir tentara Belanda yang masih belum menyatakan kemerdekaan Indonesia saat itu.

Mungkin saat sahabat diary memahami dan mengingat pelajaran sejarah di sekolah. Kalian tak asing dengan pengetahuan bahwa Indonesia merdeka berkat keberanian para pahlawan di dalam peperangan. Salah satu perang yang dikenal mengusir sekutu yang tak mau mengakui kemerdekaaan Indonesia adalah perang gerilya.

Kala itu Jendral Sudirman merupakan pemimpin pasukan dalam perang gerilya tersebut. Yakni perlawanan selama beberapa bulan keluar masuk hutan dengan menggunakan tandu dan sebagainya. Sebab usaha kerasnya itulah yang membuat pasukan Belanda gentar dan meninggalkan Indonesia.

Biografi Jendral Sudirman ini akan mengenalkan sosok Jendral Sudirman kepada sahabat diary. Sudirman adalah seorang Jendral panglima yang memiliki wibawa dan sangat disegani oleh para anggota pasukannya. Wibawanya memang sudah terbentuk sejak kecil. Beliau memiliki tutur kata yang tenang dan bersifat solutif terhadap suatu masalah.

Jarang yang mengetahui bahwa Jendral Sudirman juga berperan aktif di bidang pendidikan sebelum menjadi seorang Jendral besar. Sahabat diary tahukah bahwa sudah banyak hal yang sudah beliau lakukan untuk mengubah Indonesia melalui pendidikan sebelum masuk ke militer, berikut ulasan lengkap perjalanan hidup atau biografi Jendral Sudirman.

Nama: Raden Soedirman

Dikenal : Jendral Besar Sudirman

Tempat Kelahiran: Purbalingga, Jawa Tengah

Tanggal Lahir: 24 Januari 1916

Wafat: Magelang, 29 Januari 1950

Orang Tua: Karsid Kartawiraji (ayah) dan Siyem (ibu)

Saudara: Muhammad Samingan

Istri: Alfiah

Anak: Didid Sutjiati, Didi Pudjiati, Taufik Effendi, Titi Wahyuti Satyaningrum, Didi Praptiastuti, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, Ahmad Tidarwono.

Masa kecil Jendral Sudirman

Jenderal Besar Sudirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916. Diberi nama  Raden Soedirman yang mana dibaca dengan “Sudirman”. Ayahnya bernama Karsid Kartawiuraji dan ibunya bernama Siyem. Namun beliau lebih banyak tinggal bersama pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo yang merupakan seorang camat setelah diadopsi.

Ayah dan Ibu Sudirman merelakan anaknya diadopsi oleh pamannya karena kondisi keuangan pamannya yang lebih baik dan mapan daripada orang tua Sudirman. Orang tuanya berharap agar dengan hal tersebut anaknya akan mendapat kehidupan yang lebih layak serta terjamin.Menjadi anak angkat camat, Sudirman di sekolahkan sejak usia 7 tahun.

Paman dan orang tua Sudirman sangat beruntung. Selain pandai Sudriman juga dinilai sangat taat dalam beragama. Beliau adalah sosok laki-laki yang sholeh, beliau mempelajari keislaman dibawah bimbingan Raden Muhammad Kholil. Teman-teman Sudirman bahkan menjulukinya sebagai ‘Haji’. Ia sering berceramah dan rajin dalam belajar.

Sejak kecil Sudirman memang sudah memiliki sifat dan sikap yang patut ditauladani. Belaiu merupakan sosok laki-laki yang pandai dalam penididkan, taat dalam beragam dan aktif berorganisasi. Beliau juga merupakan sosok yang berwibawa. Berkat itulah yang membuat perjalanan karirnya mulus dan cemerlang.

Jiwa nasionalis juga sangat besar tertanam dalam jiwanya. Sudirman adalah pria yang dikenal rela mengorbankan dirinya untuk kepentingan negaranya. tak heran jika beliau menjadi pahlawan yang hebat dan dikenal bangsa.

Pendidikan Jendral Sudirman

Sudirman kecil mendapatkan pendidikan yang layak sedari dini. Di usia tujuh tahun, Sudirman kecil dimasukkan di HIS (Hollandsch Indlandsche School) atau sekolah pribumi oleh sang paman yang merupakan ayah angkatnya.

Namun setelah itu Sudirman di pindahkan ke sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara yakni Taman Siswa pada tahun ke tujuh. Tahun berikutnya di pindah ke Sekolah Wirotomo, karena Taman Siswa dianggap illegal oleh pemerintah Belanda.

Pada tahun 1934 pamannya Cokrosunaryo wafat, hal itu menjadi pukulan berat baginya karena keluarganya yang kemudian jatuh miskin. Akan tetapi beliau masih diizinkan untuk tetap bersekolah tanpa membayar di Wirotomo. Sudirman remaja ikut mendirikan organisasi islam bernama Hizbul Wathan milik Muhammadiyah, dan dia menjadi pemimpin cabang Cilacap setelah lulus.

Di Wirotomo Sudirman terkenal sebagai siswa cerdas. Beliau berbakat dan berani, disana Sudirman juga ikut mendirikan organisasi islam bernama Hizbul Wathan milik Muhammadiyah. Beliau juga menjadi pemimpin organisasi tersebut pada cabang Cilacap setelah lulus dari Wirotomo.

Masa menjadi guru

Dalam biografi Jendral Sudirman juga dipaparkan bahwa kemampuan beliau dalam memimpin memang sudah terlihat sejak muda. Hal itu terbukti dimana sosok beliau disegani dan dihormati oleh masyarakat saat itu.

Setelah lulus beliau kembali belajar di Kweekscool, sekolah khusus calon guru milik Muhammadiyah, namun berhenti karena tidak ada biaya. Kemudian Sudirman kembali ke Cilacap dan menjadi seorang guru di Sekolah Dasar Muhammadiyah yang ada di sana.

Di sanalah Sudirman bertemu dengan Siti Alfiah, temannya sekolah dahulu dan kemudian mereka menikah. Lalu setelah menikah Sudirman tinggal di Cilacap rumah mertuanya Raden Sostroatmodjo seorang pengusaha batik kaya raya.

Selama mengajar Sudirman tetap aktif berorganisasi, ikut dalam organisasi pemuda Muhammadiyah. Setelah Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, maka perpindahan kekuasaan mulai terjadi, geraknya mengajar mulai dibatasi. Bahkan sekolahnya ditutup diubah menjadi pos militer oleh Jepang.

Sudirman akhirnya mencoba melakukan negosiasi dengan Jepang. Hasilnya berbuah manis, Jepang membolehkan beliau untuk tetap mengajar meskipun terbatas perlengkapannya. Namun ternyata hal itu tidak mengendurkan semangatnya untuk tetap mengajar di sekolahnya.

Di tahun 1944, Sudirman menjabat perwakilan di dewan karesidenan yang dibentuk oleh Jepang. Dan tak lama kemudian Sudirman diminta untuk bergabung dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air) oleh Jepang.

Pernikahan Sudirman bersama Istrinya

biografi Jendral Sudirman
biografi Jendral Sudirman

Saat membaca biografi Jendral Sudirman secara lengkap, mungkin informasi ini adalah salah satu yang sahabat diary tunggu-tunggu. Kisah cinta beliau dan sang istri pun tidak kalah manis dibanding drama romantis loh.

Sebelumnya tentu sahabat diary sudah mengetahui kalau Jendral Sudirman adalah seorang yang tak hanya pintar tapi juga aktif mengikuti kegiatan organisasi di sekolahnya. Di sinalah beliau pertama kali bertemu dengan istrinya, Siti Alfiah.

Tak hanya dalam organisasi sekolah saja, ternyata keduanya juga bergabung dalam Perkumpulan Pemuda Muhammadiyah Cilacap. Siti Alfiah adalah putri dari Sastroadmodjo yang merupakan pengurus Muhammadiyah.

Alfiah sapaan akrabnya, dikenal sebagai gadis yang cantik dan banyak menjadi incaran para pemuda. Selain cantik, beliau juga seorang perempuan yang pandai, maka tak heran jika Jendral Sudirman menaruh hati kepadanya.

Berbagai cara beliau lakukan untuk menarik hati wanita pujaannya tersebut. Mulai dari menjadikan Alfiah sebagai bendahara pada kelompok teater yang diketuainya, hingga sering mengunjungi Sastroadmodjo dengan alasan koordinasi internal Muhammadiyah.

Dari kebiasaan tersebut, akhirnya teman-temannya tahu kalau Soedirman muda menyukai Alfiah. Sejak saat itu, laki-laki lain tak ada yang berani mendekati gadis cantik itu. Hubungan cinta keduanya awalnya berjalan mulus, bahkan kedua orangtua Alfiah pun setuju jika Sudirman yang kala itu seorang guru menjadi menantunya.

Sayangnya, paman Alfiah tidak menyukai hubungan tersebut dan menginginkan wanita itu menikah dengan pria dari keluarga kaya. Menanggapi hal tersebut, ibu Soedirman pun kemudian menyanggupi untuk membayar biaya pernikahan agar anaknya tidak disepelekan oleh keluarga Alfiah.

Dari pernikahan tersebut, Alfiah dan Soedirman dikaruniai tujuh orang anak. Ketujuh anak beliau bernama Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, Taufik Effendi, Titi Wahjuti Setyaringrum, Didi Praptiastuti, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, Ahmad Tidarwono.

Jalinan cinta mereka sekali lagi mendapat ujian saat sang jendral mengidap penyakit paru-paru. Diketahui, Soedirman adalah seorang perokok berat. Dengan setia, wanita ini mendampingi beliau bahkan hingga akhir hayatnya.

Masuk dunia militer

biografi Jendral Sudirman
biografi Jendral Sudirman

Pada tahun 1944, Sudirman menjabat sebagai ketua dewan karesidenan yang dibentuk oleh Jepang. Inilah awal mula Sudirman memasuki dunia militer karena diminta bergabung dengan tentara PETA.

Setelah menjadi anggota PETA (pembela Tanah Air) di Bogor, begitu tamat pendidikan Sudirman ditetapkan menjadi komandan batalyon Kroya. Kemudian menjadi Panglima Divisi V/ Banyumas sesudah TKR terbentuk. Yang Akhirnya terpilih menjadi Panglima ANgkatan Perang RI (Panglima TNI) yang pertama dan paling muda.

Perjalanannya Jendral Sudirman dalam dunia militer terbilang mulus. Hal itu tidak lepas dari kemampuannya memimpin pasukan. Sudirman merupakan pahlawan pembela kemerdekaan yang mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadinya.

Dalam biografi Jendral Sudirman tercatat sebagai Panglima sekaligus Jendral pertama dan termuda Republik Indonesia. Kala itu beliau yang mempunyai sikap tegas sering kali memprotes perlakuan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya inilah, dirinya pernah hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah masa kependudukan Jepang berakhir saat bom Hirosima dan Nagasaki meledak, Sudirman memimpin pelarian bersama kawan-kawannya saat ditahan di Bogor. Kemudian bertemu dengan sang proklamator, Soekarno dan Hatta memintanya untuk memimpin pasukan melawan Jepang di Jakarta. Namun ditolak Sudirman memilih tetap di Kroya dan memimpin pasukannya melucuti Jepang.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, pemerintah mendirikan BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan melebur PETA kedalamnya. Sudirman bersama tentaranya kemudian mendirikan cabang BKR di Banyumas.

Beliau memimpin masyarakat disana dalam melucuti persenjataan tentara Jepang. Lalu kemudian Presiden Soekarno kemudian membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dimana personilnya berasal dari mantan KNIL, PETA dan Heiho.

Pada tanggal 12 November 1945, Sudirman yang kala itu berumur 29 tahun terpilih sebagai pemimpin TKR. Sudirman kemudian dipromosikan sebagai seorang Jenderal. Ia juga menunjuk Urip Sumoharjo sebagai kepala staf TKR. Walaupun begitu beliau ketika itu belum secara resmi dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai Kepala TKR.

Agresi Militer Belanda

Ketika pasukan sekutu datang kembali ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata  mereka membawa tentara Belanda. TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa.

Dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang. Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya yang dikenal dengan Agresi Militer II Belanda.

Hal itu pula yang membuat Ibukota Negara Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta, sebab Kota Jakarta telah dikuasai oleh  Belanda. Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda.

Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Melihat keadaan itu, Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran tersebut tidak dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Masa Perang Gerilya

Pada masa Agresi Militer Belanda ke II, kala itu Jendral Sudirman sedang dilanda sakit yang cukup parah. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya hanya berfungsi 50%. Melihat keadaan itu presiden Soekarno memintanya untuk tetap di dalam kota dan melakukan perawatan.

Namun anjuran presiden tidak dilaksanakan karena merasa bertanggung jawab memimpin pasukannya. Demi membela bangsa Indonesia Jendral Sudirman yang sedang sakit dengan ditandu tetap berangkat memimpin pasukan untuk melakukan gerilya.

Sekitar selama tujuh bulan beliau berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lain, dari gunung satu ke gunung lainnya dalam keadaan lemah dan sakit. Sebagai seorang panglima beliau merasa memiliki tanggung jawab besar untuk menyelamati negaranya yang sedang genting.

Sudirman dengan segenap keyakian dan kekuatan memaksakan dirinya untuk ikut berperang mengusir sekutu. Beliau lupa menghiraukan kondisi fisiknya yang melemah akibat sakit yang diderita. Persediaan obat semakin menipis kala itu, namun Jendral Sudirman tetap memberikan semangat dan motivasi kepada pasukannya.

Beliau tidak pernah merasakan penyakitnya, namun keadaan fisik yang terus menurun membuat beliau harus pulang dari medan perang. Jendral Sudirman tidak bisa memimpin langsung pasukannya tapi pemikirannya tetap dibutuhkan.

Wafatnya Jendral Sudirman

Berdasarkan biografi Jendral Sudirman, beliau mengidap penyakit TBC. Penyakit tersebut yang menggerogoti Jenderal Sudirman kala itupun semakin hari semakin parah. Beliau rajin memeriksakan diri di rumah sakit Panti Rapih.

Namun disaat itu juga Indonesia sedang dalam negoasiasi dengan Belanda menuntut pengakuan kedaulatan Indonesia. Meski begitu Jendral Sudirman tak hanya berpangku tangan melihat bangsanya dalam keadaan genting.

Berdasarkan cerita di atas yaitu di saat perang gerilya, beliau memaksakan kondisinya untuk tetap memimpin perang. Meski selama berbulan-bulan lamanya beliau harus ditandu keluar masuk hutan. Jenderal Sudirman kala itu memang jarang ikut andil karena sedang dirawat di Sanatorium diwilayah Pakem dan kemudian pindah ke Magelang pada bulan desember 1949.

Pada tanggal 27 desember 1949 Belanda kemudian mengakui kedaulatan Indonesia melalui Republik Indonesia Serikat. Jenderal Sudirman saat itu juga diangkat sebagai Panglima Besar TNI. Menurut biografi Jenderal Sudirman, diketahui setelah berjuang keras melawan penyakitnya, Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar Sudirman wafat di Magelang.

Pemakamannya ke Yogyakarta diiringi empat tank serta 80 kendaraan bermotor. Masyarakat kala itu tumpah ruah ke jalan memberikan penghormatan terakhir ke Panglima Sudirman. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Pemakamannya dilakukan dengan prosesi militer. Beliau dimakamkan disamping makam jenderal Urip  Sumoharjo. Jenderal Sudirman kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Kata Mutiara Jendral Sudirman

1. Orang yang ingin memberi perintah lebih dahulu harus mau diperintah.

2. Robek-robeklah Badanku, Potong-potonglah Jasad ini, tetapi Jiwaku dilindungi benteng Merah Putih, akan tetap Hidup, tetap menuntut Bela, siapapun Lawan yang aku Hadapi.

3. Kamu bukanlah prajurit sewaan. Tetapi tentara yang berideologi. Sanggup berjuang menempuh maut untuk kelahiran Tanah Airmu.

4. Percaya dan yakinlah, bahwa Kemerdekaan sebuah negara yang didirikan diatas timbunan/reruntuhan ribuan korban jiwa, harta benda dari rakyat dan Bangsanya tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga.

Itulah biografi Jendaral Sudirman yang bisa dijadikan referensi dan pelajaran untuk sahabat diary. Berkat sikap dan sifatnya yang tertanam sejak dinilah yang membuat Jendral besar Sudirman sangat disegani dan dihargai masayarakat. Kepandaian, terampil dan juga jiwa nasionalis yang mengantarkan Jendral Sudirman menjadi pahlawan dalam membela kemerdekaan Indonesia. Semoga artikel biografi Jendral Sudirman ini bermanfaat ya sahabat diary.

Ketahui juga Biografi Tokoh, Profil Negarawan dan Tokoh Terkenal Indonesia berikut ini: