Biografi Ismail Marzuki – Sang Pencipta Lagu yang Melegenda

0
36
Biografi Ismail Marzuki
Biografi Ismail Marzuki

diarylounge.com, Siapa sih yang tidak kenal dengan Marzuki Ismail? Pada artikel ini kita akan membahas tentang biografi Ismail Marzuki. Hai sahabat diary, Ismail Marzuki meruapakan seorang komponis besar Indonesia yang semasa hidupnya sudah menciptakan lebih dari 200 buah lagu.

Beliau adalah sosok orang yang sangat berbakat dengan berbagai karya lagu dan musik yang bertema nasionalis dan perjuangan. Berkat hasil tangannya, banyak tercipta karya-karya lagu perjuangan yang sampai sekarang terus dinyayikan oleh rakyat Indonesia.

Diantaranya lagu Sepasang Mata Bola, Rayuan Pulau kelapa, Indonesia Pusaka, dan lain-lain. Namanya diabadikan sebagai nama pusat kesenian di Jakarta, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM). Sebagai  pencipta lagu, Ismail Mazuki (1914-1958) merupakan orang yang berhasil meletakkan dasar ala nyanyian “selera Indonesia” yang sebenarnya pada lagu-lagu yang populer. 

Oleh karena itu, lagu karyanya dapat dihayati secara umum oleh siapaun di negaraini. Gaya populer serta irama kebanyakan lagunya yang terkesan santai menjadi model dan diikuti oleh para pencipta musik lain  yang  menciptakan nyanyian Indonesia pada zaman saat itu hinggatahun 1980-an.

Di kalangan keluarga dan kerabatnyaIsmail Marzuki biasa dipanggil dengan panggilan Mail atau Maing. Beliau lair di kampung Kwitang, Senen, Jakarta pada tanggal 11 Maret 1914. Sebagai anak kampung yang berasal dari keluarga yang kecukupan. Maing berhasil masuk kedalam sekelompok kecil masyarakat pribumi yang pada saat itu dianggap cukup terpelajar pada masanya.

Karyanya yang luar biasa bagi negara membuat pemerintah juga memberikan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada tahun 2004. Dalam hidupnya, Ismail dikenal sangat mencintai Indonesia. Ini terbukti dari beberapa lagunya seperti Indonesia Pusaka dan Rayuan Pulau Kelapa.

Pada saat RRI direbut penjajah pun, dia memilih mogok kerja dan rela hidup susah bersama istrinya. Berikut ini pembahasan mengenai biografi Ismail Marzuki secara lengkap.

Nama                                    : Ismail Marzuki

Tempat, tanggal lahir      : Jakarta, 11 Mei 1914

Wafat                                    : Jakarta, 25 Mei 1958

Orang tua                            : Marzuki (Ayah), Solechah (Ibu)

Istri                                        : Euis Zuraidah

Anak                                      : Rachmi Aziah

Masa Kecil Ismail Marzuki

Oh ya sahabat diary, dalam biografi Ismail Marzuki beliau lahir dan besar dalam keluarga berbudaya betawi. Beliau lahir di Kwitang, Senen, Batavia, 11 Mei 1914. Ismail Marzuki yang lebih dikenal dengan panggilan Maing merupakan anak dari keluarga keturunan Betawi.

Ismail Marzuki dikenal memiliki bakat seni yang sulit dicari bandingannya. Sosoknya pun mengagumkan. Ismail merupakan anak dari pasangan Marzuki dan Solechah. Dalam biografi Ismail Marzuki, beliau terkenal sebagai pemuda yang berkepribadian luhur dan tergolong anak pintar.

Ismail sejak muda senang tampil necis. Bajunya disetrika licin, sepatunya mengkilat dan senang berdasi. Darah seni Ismail mengalir dari ayahnya Marzuki, yang saat itu seorang pegawai di perusahaan Ford Reparatieer TIO. Ayahnya, Marzuki dikenal gemar memainkan kecapi dan piawai melagukan syair-syair yang bernafaskan Islam.

Jadi tidak aneh kalau kemudian Ismail sejak kecil sudah tertarik dengan lagu-lagu. Tiga bulan setelah Ismail dilahirkan, ibunya meninggal dunia. Sebelumnya Ismail Marzuki juga telah kehilangan 2 orang kakaknya bernama Yusuf dan Yakup yang telah mendahului saat dilahirkan.

Kemudian beliau tinggal bersama ayah dan seorang kakaknya yang masih hidup bernama Hamidah, yang umurnya lebih tua 12 tahun dari Ismail

Pendidikan Ismail Marzuki

Seperti yang dikatakan sebelumnya berdasarkan biografi Ismail Marzuki bahwa beliau berasal dari keluarga yang berkecukupan. Pada masa kecilnya, Ismail Marzuki disekolahkan ayahnya ke sebuah sekolah Kristen HIS Idenburg Menteng.

Nama panggilannya di sekolah adalah Benyamin. Tapi kemudian ayahnya merasa khawatir jika nantinya bersifat kebelanda-belandaan. Oleh karena itu, Ismail Marzuki dipindahkan ke Madrasah Unwabul – Salah di Kwitang.

Setelah mulai beranjak dewasa, Ismail kemudian dibelikan ayahnya alat musik yang sangat sederhana. Pada tiap kenaikan kelas, Ismail Marzuki diberikan hadiah harmonika, Mandailing dan gitar. Setelah lulus, beliau masuk sekolah MULO dan membentuk sebuah grup musik sendiri.

Nah, disitulah beliau bisa memainkan alat musik dan gemar memainkan lagu – lagu dengan gaya Dixieland  dan lagu – lagu barat yang banyak digandrungi semua orang pada saat itu. Setelah tamat MULO, Ismail Marzuki bekerja di Socony Service Station sebagai kasir dengan gaji 30 gulden sebulan, sehingga dia sanggup menabung untuk membeli biola.

Namun, pekerjaan sebagai kasir dirasakan kurang cocok baginya. Ia kemudian pindah pekerjaan dengan gaji yang tidak tetap sebagai berkoperasi atau disebut juga dengan penjual piringan hitam produksi Columbia dan Polydor yang berkantor di Juanda.

Karir Bermusik Ismail Marzuki

Biografi Ismail Marzuki
Biografi Ismail Marzuki

Penghasilan yang tergantung dengan jumlah piringan hitam yang bisa dia jual rupanya pekerjaan ini hanya dijadikan sebagai batu loncatan bagi beliau untuk ke jenjang karier berikutnya dalam bidang musik. Selama bekerja sebagai penjual piringan hitam, Ismail Marzuki  banyak berkenalan dengan artis yang sering pentas, film, musisi  misalnya saja Zahirdin, Yahya, Kartolo dan Roekiah.

Ismail Marzuki memulai debutnya di bidang musik pada usia 17 tahun, ketika untuk pertama kalinya ia berhasil mengarang lagu “O Sarinah” pada tahun 1931. Pada tahun 1936, Ismail Marzuki memasuki perkumpulan orkes musik Lief Jawa sebagai pemain gitar dan saksofon.

Pada tahun 1934 , Belanda membentuk Nederlands Indische Radio Omroep Mattshappij dan orkes musik Lief Java dan pada waktu itu mendapatkan kesempatan untuk mengisi acara siaran musik. Namun Ismail Marzuki mulai menjauhkan diri dari lagu – lagu barat dan kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri antara lain, Akibat Baba Rimba, Ohle lebih di Kotaraja dan Ya Aini.

Lagu ciptaannya ini kemudian ditekan ke dalam sebuah piringan hitam di Singapura. Lagu-lagu tersebut tanpa pemberitahuan dijadikan lagu pembukaan siaran radio NIROM, sehingga grup musik Ismail Marzuki mengajukan protes, namun protes mereka tidak digubris oleh direktur NIROM.

Pada periode 1936-1937, Ismail Marzuki mulai mempelajari berbagai jenis lagu tradisional. Kemudian lagu ciptaannya “Bunga Mawar dari Mayangan” dan “Duduk Termenung” dijadikan tema lagu untuk film “Terang Bulan”.

Awal Perang Dunia II (1940) mulai mempengaruhi kehidupan di Hindia-Belanda (Indonesia). Radio NIROM mulai membatasi acara siaran musiknya, sehingga beberapa orang Indonesia di Betawi mulai membuat radio sendiri dengan nama Vereneging Oostersche Radio Omroep (VORO) berlokasi di Karamat Raya.

Tiap malam Minggu orkes Lief Java mengadakan siaran khusus dengan penyanyi antara lain Annie Landouw. Ismail Marzuki menjadi pemain musik sekaligus mengisi acara lawak dengan nama samaran “Paman Lengser” dibantu oleh “Botol Kosong” alias Memet.

Membentuk Perikatan Radio Ketimuran (PRK)

Ketika Ismail Marzuki membentuk organisasi Perikatan Radio Ketimuran (PRK), pihak Belanda memintanya untuk memimpin orkes studio ketimuran yang berlokasi di Bandung (Tegal-Lega). Orkesnya membawakan lagu-lagu Barat. Pada periode ini beliau banyak mempelajari bentuk-bentuk lagu Barat, yang digubahnya dan kemudian diterjemahkannya ke dalam nada-nada Indonesia.

Sebuah lagu Rusia ciptaan R. Karsov diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda menjadi “Panon Hideung”. Sebuah lagu ciptaannya berbahasa Belanda tapi memiliki intonasi Timur yakni lagu “Als de orchideen bloeien”. Lagu ini kemudian direkam oleh perusahaan piringan hitam His Master Voice (HMV). Kelak lagu ini diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Bila Anggrek Mulai Berbunga”.

Tahun 1940, Ismail Marzuki menikah dengan penyanyi kroncong Eulis Zuraidah, seorang primadona dari klub musik yang ada di Bandung dimana Ismail Marzuki juga tergabung didalamnya. Pada Maret 1942, saat Jepang menduduki seluruh Indonesia, Radio NIROM dibubarkan diganti dengan nama Hoso Kanri Kyoku. PRK juga dibubarkan Jepang, dan orkes Lief Java berganti nama Kireina Jawa.

Lagu-Lagu Perjuangan

Sahabat diary ingat tidak dengan beberapa lagu-lagu perjuangan Indonesia seperti “Gagah Perwira” atau “Rayuan Pulau Kelapa”? Di masa-masa sekolah tentu kalian akrab dengan syair lagu-lagu tersebut pastinya. Itulah merupakan beberapa sebagian kecil karya komposer nasional hebat yang kini menjadi Pahlawan bangsa.

Ismail Marzuki mulai memasuki periode menciptakan lagu-lagu perjuangan. Mula-mula syair lagunya masih berbentuk puitis yang lembut seperti “Kalau Melati Mekar Setangkai”, “Kembang Rampai dari Bali” dan bentuk hiburan ringan, bahkan agak mengarah pada bentuk seriosa.

Dalam Biografi Ismail Marzuki diketahui bahwa ada periode 1943-1944, Ismail Marzuki menciptakan lagu yang mulai mengarah pada lagu-lagu perjuangan, antara lain “Rayuan Pulau Kelapa”, “Bisikan Tanah Air”, “Gagah Perwira”, dan “Indonesia Tanah Pusaka”.

Kepala bagian propaganda Jepang, Sumitsu, mencurigai lagu-lagu tersebut lalu melaporkannya ke pihak Kenpetai (Polisi Militer Jepang), sehingga Ismail Marzuki sempat diancam oleh Kenpetai. Namun, putra Betawi ini tak gentar. Perjuangan Ismail Marzuki selanjutnya pada 1945 menciptakan lagu “Selamat Jalan Pahlawan Muda”.

Setelah Perang Dunia II, ciptaan lagu Ismail marzuki terus mengalir, antara lain “Jauh di Mata di Hati Jangan” (1947) dan “Halo-halo Bandung” (1948). Ketika itu Ismail Marzuki dan istrinya pindah ke Bandung karena rumah mereka di Jakarta kena dihantam peluru mortir.

Ketika berada di Bandung selatan, ayah Ismail Marzuki di Jakarta meninggal. Ismail Marzuki terlambat menerima berita. Ketika dia tiba di Jakarta, ayahnya telah beberapa hari dimakamkan. Itulah yang mengilhaminya untuk menciptakan lagu “Gugur Bunga”.

Lagu hiburan populer yang bernafaskan cinta pun sampai-sampai diberi suasana kisah perjuangan kemerdekaan. Misalnya syair lagu “Tinggi Gunung Seribu Janji”, dan “Juwita Malam”. Lagu-lagu yang khusus mengisahkan kehidupan para pejuang kemerekaan, syairnya dibuat ringan dalam bentuk populer, tidak menggunakan bahasa Indonesia tinggi yang sulit dicerna.

Sampai pada lagu ciptaan yang ke 100-an, Ismail Marzuki masih merasa belum puas dan belum bahagia. Malah, lagu ciptaannya yang ke-103 tidak sempat diberi judul dan syair.

Wafatnya Ismail Marzuki di Pangkuan Sang Istri

Biografi Ismail Marzuki
Biografi Ismail Marzuki

Ada pribahasa yang menyatakan “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama”. Demikian terjadi pada Ismail Marzuki. Hanya ada kumpulan karya beliau. Ismail Marzuki begitu dikenal sebagai maestro musik Indonesia. Namun ada pihak yang berusaha untuk memecah usahanya untuk mengembangkan kesenian daerah.

Berulang kali beliau dicecar dengan kata-kata dan kalimat yang sinis. Beruntung, ada sang istri dan anak selalu mendukungnya.Pada tahun 1940 Ismail Marzuki pun menikah dengan Eulis Zuraidah, seorang primadona dari klub musik yang ada di Bandung dimana Ismail Marzuki juga tergabung didalamnya. Pasangan ini kemudian mengadopsi seorang anak bernama Rachmi.

Di masa-masa tersebutlah, kesehatan Ismail Marzuki mulai terganggu hingga akhirnya mengundurkan diri dari kegiatan orkestra. Aktivitasnya pun hanya terbatas pada karya komposisi saja. Rupanya, siang hari pada 25 Mei 1958 menjadi hari terakhir Ismail bertatap muka dengan keluarga kecilnya.

Usai makan siang sang komponis ini bercengkrama dengan Rahmi dan tak luput berbaring di pangkuan sang istri seperti kebiasaanya yang sudah-sudah. Eulis merasa Ismail Marzuki tertidur pulas. Dibelai rambut suaminya dengan penuh kehangatan. Namun beliau tidak bergerak, tak ada pula sepatah kata yang diucapkan.

Islmail telah kembali ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa tanpa pamit, pesan dan meninggalkan gejala apa pun. Ada duka yang mendalam bagi Eulis dan putrinya. Ismail Marzuki meninggal di usia 44 tahun. Saat ini, Ismail Marzuki dimakam di TPU Karet Bivak, Jakarta. Pada batu nisannya dipahatkan lagu Rayuan Pulau Kelapa.

Beberapa puluh tahun setelahnya, pemerintah berniat untuk memindahkan makamnya ke Taman Makan Pahlawan di Kalibata. Namun keluarga menolak dan menganggap jika hal tersebut bukanlah kepentingan yang mendesak. Bagi pihak keluarga, di mana pun jasadnya dikubur, karya abadi Ismail Marzuki tetaplah bertumpu di hati rakyat Indonesia.

Peninggalan Ismail Marzuki

Hingga Ma’ing alias Ismail Marzuki komponis besar Indonesia itu menutup mata selamanya pada 25 Mei 1958. Peran Ismail Marzuki terhadap sejarah musik Indonesia sangat vital, khususnya lagu-lagu perjuangan yang ia ciptakan.

Lagu ciptaan karya Ismail Marzuki yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang digunakan sebagai lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru. Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan pada tahun 1968 dengan dibukanya Taman Ismail Marzuki, sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat.

Pada tahun 2004 dia dinobatkan menjadi salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia. Ismail Marzuki sempat mendirikan orkes Empat Sekawan dan dikenal publik ketika mengisi musik dalam film Terang Bulan. Selain itu, kita dapat menemukan nama Ismail Marzuki yang sekarang diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Lagu Ciptaan Ismail Marzuki

Berikut adalah beberapa karya lagu dari ismail marzuki yang terkenal hingga saat ini:

1. Wanita

2. Rayuan Pulau Kelapa

3. Kasim Baba

4. Bandaneira

5. Sepasang Mata Bola (1946)

6. Karangan Bunga dari Selatan

7. Selamat Datang Pahlawan Muda (1949)

8. Bandung Selatan di Waktu Malam (1948)

9. O Sarinah (1931)

10. Roselani

11. Rindu Lukisan

12. Indonesia Pusaka

13. Keroncong Serenata

14. Aryati

15. Gugur Bunga

16. Melati di Tapal Batas (1947)

17. Lenggang Bandung

18. Sampul Surat

19. Juwita Malam

20. Sabda Alam

Kesimpulan

Ismail Marzuki merupakan sosok pria yang lahir dan besar dengan garis keturunan budaya betawi. Meski kental akan kehidupan budaya, keluarganya merupakan sosok kaum intelek yang berfikir untuk kemajuan. Berasal dari keluarga yang berkecukupan mendorongnya memiliki pendidikan yang cukup. Memiliki bakat seni telah melekat dalam dirinya sejak kecil merupakan warisan dari sang ayah.

Berkat dukungan sang ayah pula membuat Ismail mengembangkan bakatnya dalam seni musik. Bermula dari belajar memainkan berbagai alat musik hingga mulai membuat lagu-lagu hasil ciptaannya dalam berbagai versi. Hingga suatu hari beliau memutuskan untuk membuat lagu-lagu yang berbau perjuangan Indonesia.

Karya-karyanya sangat dihargai mahal saat itu karena memang merdu didengar telinga siapapun. Hingga kini lagu-lagu ciptaannya pun masih terus didendangkan. Namanya populer dalam dunia seni musik. Hingga ketika telah wafat, namanya tetap mengharumkan bangsa dan meninggalkan karya ciptanya bagi bangsa Indonesia.

Meski beliau memang bukan pahlawan yang ikut berperang mengusir penjajah dari tanah air. Bukan juga sosok bangsawan atau pemuka agama yang disegani pada masa penjajahan. Nama gelar pahlawan tersemat di namanya yang diberikan pemerintah Indonesia pada tahun 2004.

Berkat keahliannya dalam mengkomposisi lagu dan membuat syair hingga akhirnya membuatnya menciptakan banyak karya bagi bangsa ini. Maka memang sepatutnya beliau berhak mendapatkan gelar pahlawan.

Itulah biografi Ismail Marzuki yang dapat diulas dalam artikel ini. Meski telah lama wafat namun namanya akan selalu besar bagi bangsa ini. Beberapa kisah Ismail Marzuki telah dirangkum dalam kisah biografinya dalam artikel ini.

Semoga kebaikan tokoh diatas dapat ditauladani oleh sahabat diary semua yaaa. Mohon maaf bila masih ada yang kurang dalam menceritakan sosok beliau. Jangan lupa jadika artikel biografi Ismail Marzuki ini sebagai referensi pembelajaran dan pengetahuan ya sahabat diary. Sampai jumpa lagi.

Ketahui juga Biografi Tokoh, Profil Negarawan dan Tokoh Terkenal Indonesia berikut ini: