Biografi Fatmawati Soekarno – Ibu Negara Pertama Indonesia

0
20
Biografi Fatmawati
Biografi Fatmawati

Diarylounge.com, Hallo sahabat diary, tahukah kalian dengan biografi Fatmawati? Nah, pada artikel ini kita akan membahas tentang kehidupan Ibu Fatmawati. Siapakah sosok beliau, dan bagaimanakah perjalanan kisahnya hingga namanya dikenal dan dikenang hingga saat ini. Pemilik nama asli Fatimah atau yang akrab disapa Fatmawati merupakan ibu negara pertama Republik Indonesia.

Ya, beliau adalah salah satu istri yang setia menemani perjuangan bung Karno hingga pada era kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan banyaknya biografi Fatmawati, beliau tidak hanya terkenal karena menjadi istri Presiden Republik Indonesia pertama.

Nama Fatmawati juga memilki sejarah besar bagi bangsa ini yaitu sebagai penjahit bendera pusaka “sang merah putih” untuk upacara proklamasi 17 Agustus 1945. Wanita kelahiran Bengkulu 1923 ini dengan kuat dan setia menemani perjalanan Bung Karno mencapai kemerdekaan.

Beliau merupakan ibu negara yang sangat mengayomi dan aktif dalam kegiatan sosial. Ketika ibu kota dipindahkan ke Yogyakarta demi keamanan, Bung Karno dan Fatmawati bersama-sama pindah dan mengurus anak-anaknya disana.

Kehidupan keluarganya dengan Soekarno sangat harmonis. Hingga setelah kelahiran anak terakhirnya yaitu Guruh Soekarnoputra, Fatmawati meminta untuk dipulangkan ke orang tuanya. Hal itu karena Soekarno meminta izin untuk menikahi Hartini.

Jika sahabat diary pernah mendengar istilah kata-kata “ada wanita hebat dibalik seorang laki-laki hebat” maka berkacalah dari Presiden Soekarno. Kesuksesan dan kehebatan dari Presiden Soekarno tidak lepas dari dari campur tangan dan perjuangan sang istri yaitu ibu Fatmawati.

Fatmawati merupakan keturunan bangsawan dari Kerajaan Indrapura Mukomuko. Agar sahabat diary bisa mengenal sosok Fatmawati secara lengkap, berikut ulasan mengenai biografi Fatmawati.

Nama Asli : Fatimah

Nama panggilan : Fatmawati Soekarno

Tempat, tanggal lahir : Bengkulu, 5 Februari 1923

Wafat : Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Mei 1980

Suami : Ir. Soekarno

Anak : Megawati Soekarnoputri, Guntur Soekarnoputra, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra

Orang tua : Hasan Din (ayah), Siti Chadijah (ibu)

Agama : Islam

Keluarga Fatmawati

Seperti banyak dituliskan dalam biografi Fatmawati, beliau merupakan wanita kelahiran Bengkulu 5 Februari 1923. Dilahirkan dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah, Fatmawati dilahirkan dengan nama Fatimah.

Tidak banyak diketahui orang bahwa sebenarnya Fatmawati merupakan keturunan dari Kerajaan Indrapura Mukomuko. Sang ayah Hassan Din adalah keturunan ke 6 dari Kerajaan Putri Bunga Melur. Putri Bunga Melur bila diartikan adalah putri yang cantik, sederhana, bijaksana.

Kehidupan masa kecil Fatmawati penuh tantangan dan kesulitan, akibat dari sistem kolonialisme yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pasalnya sang Ayah, Hassan Din merupakan anggota sekaligus tokoh Muhammadiyah Bengkulu.

Namun disisi lain sang ayah juga pegawai perusahaan Belanda, Bersomij di Bengkulu. Belanda meminta ayah Fatmawati untuk keluar dari keanggotaan organisasi Muhammadiyah. Tetapi karena tidak mau meninggalkan kegiatannya sebagai anggota Muhammadiyah, ayahnya kemudian keluar dari perusahaan itu.

Setelah itu, Hassan Din mulai sering berganti usaha dan berpindah ke sejumlah kota di kawasan Sumatera Bagian Selatan. Lahir dalam keluarga yang ikut dalam organisasi Muhammadiyah membuat Fatmawati menjadi gadis yang taat beragam dan suka berorganisasi. Sejak mengenyam pendidikan sekolah dasar saja Fatmawati sudah tergabung dalam suatu organisasi.

Pendidikan Fatmawati

Serupa diceritakan dari biografi Fatmawati, beliau mulai bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau yang pada saat itu setara dengan Sekolah Dasar (SD). Kemudian setelah tamat SD, Fatmawati kembali melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah yang dikelola oleh sebuah organisasi katolik.

Sejak saat itulah, akhirnya muncul juga kecintaan Fatmwati terhadap kehidupan beroganisasi. Dikarenakan ayahnya yang merupakan tokoh Muhammadiyah, Fatmawati pun juga terjun dalam organisasi perempuan di bawah naungan Muhammadiyah, yaitu Naysatul Asyiyah. Dalam sebuah catatan biografi Fatmawati, beliau aktif dalam menyumbangkan ide, gagasan, dan tenaga pada organisasi tersebut.

Bertemu Bung Karno

Tak ada yang menyangka bahwa pada akhirnya Fatmawati akan menjadi istri Soekarno yang merupakan nomor satu, sekaligus proklamator di Indonesia saat itu. Pertemuan pertama antara Fatmawati dan Soekarno terjadi pada kisaran tahun 1938 di Bengkulu.

Pada saat itu, Soekarno sedang dalam pengasingan ke daerah terasing di Bengkulu, setelah dari Floeres, Nusa Tenggara Timur. Ketika dalam masa pengasingannya di Bengkulu, Soekarno menjadi pengajar di sebuah sekolah yang berada di bawah naungan Muhammadiyah.

Pada saat itu pula, Fatmawati menjadi salah satu siswa di sekolah tersebut. Fatmawati juga sempat mengikuti kursus bahasa Inggris untuk kembali melanjutkan pendidikannya ke sebuah perguruan tinggi Rk Voolkschool. Fatmawati berusia sekitar 16 tahun, saat bertemu dengan Soekarno untuk pertama kali.

Sebenarnya, kedekatan antara Fatmawati dan Soekarno saat itu, memunculkan ketegangan pada hubungan Inggit Ganarsih (istri Soekarno) dengan Soekano sendiri. Akhirnya, Fatmawati tinggal kembali ke rumah neneknya yang saat ini menjadi Museum Fatmawati Soekarno yang terletak di Bengkulu.

Fatmawati pada saat itu telah dilamar oleh seorang pemuda. Hanya sebelumnya Fatmawati sempat meminta pendapat Soekarno tentang pemuda yang hendak melamarnya. Saat itu, tepat di depan rumah neneknya, Fatmawati dan Soekarno bertemu kembali.

Lamaran pemuda tersebut kemudian ditolak oleh Fatmawati karena lebih memilih untuk menerima lamaran Presiden Soekarno. Fatmawati menerima lamaran Soekarno dengan syarat utama agar Soekarno berpisah dari Inggit Ganarsih, istri Soekarno yang telah lama mendampinginya.

Demi memperoleh Fatmawati yang begitu dicintainya Bung Karno dengan perasaan yang sangat berat terpaksa harus merelakan kepergian Bu Inggit, sosok wanita yang begitu tegar dan tulusnya mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai Indonesia Merdeka.

Bersama Inggit dengan setia mendampingi Soekarno mengalami pahitnya menjadi tahanan Belanda. Namun sejarah berkata lain. Perjalanan waktu berkehendak lain, kehadiran Fatmawati diantara Bung Karno dan Bu Inggit telah merubah segalanya.

Pernikahan Soekarano dan Fatmawati

Biografi Fatmawati
Biografi Fatmawati

Hubungan Soekarno dan Fatmawati sesungguhnya tidaklah berjalan mulus. Dimana kala itu Soekarno merupakan lelaki beristri sedangkan Fatmawati merupakan gadis tunggal keturunan bangsawan. Mereka harus melewati banyak rintangan hingga akhirnya dapat bersama. Fatmawati saat itu mendapat kecaman dari kedua orang tuanya karena berhubungan dengan Soekarno yang telah beristri.

Tak hanya itu, kedekatan Soekarno dan Fatmawati seperti dikisahkan diatas pun menjadi sumber percekcokan antara Soekarno dan Inggit. Fatmawati yang telah mendapat lamaran seorang pria pun menolaknya karena lebih memilih Soekarno hanya saja dengan syarat meninggalkan Inggit. Demi cintanya saat itu Soekarno rela melepaskan istri setianya untuk meminang Fatmawati.

Pada tahun 1943 Bung Karno menikahi Fatmawati. Saat itu karena Fatmawati masih berada di Bengkulu, sementara Bung Karno sibuk dengan kegiatannya di Jakarta sebagai pemimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera) membuat pernikahan tersebut diwakilkan.

Pernikahan itu dilakukan dengan wakil salah seorang kerabat Bung Karno, Opseter Sardjono. Pada 1 Juni 1943, Fatmawati diantar orang tuanya berangkat ke Jakarta, melalui jalan darat. Sejak itu Fatmawati mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. 

Tepat pada hari Jumat di bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi,  17 Agustus 1945 para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi. Mereka sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia hari itu di rumah Soekarno.

Bersamaan dengan itu diadakan upacara pengibaran bendera. Fatmawati merupakan sosok yang menjahit bendera pusaka “Sang Merah Putih” kala itu untuk dikibarkan dalam upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pekik Merdeka pun berkumandang dimana-mana dan akhirnya mampu mengabarkan Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.

Bersama Soekarno, Fatmawati memiliki lima orang anak. Namun, pernikahan mereka pun harus kandas setelah kelahiran putra terakhirnya dengan Soekarno, yaitu Guruh. Soekarno saat itu meminta izin kepada Fatmawati untuk menikah dengan Hartini. Fatmawati mengizinkannya dengan syarat Soekarno memulangkannya ke kediaman kedua orang tuanya

Menjadi Ibu Negara RI Pertama

Salah satu butir keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya tanggal 19 Agustus 1945 adalah memilih Bung Karno dan Moh. Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia.

Setelah Ir Soekarno menjabat sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia maka secara otomatis Fatmawati yang selalu mendampingi Soekarno kemudian dikenal sebagai Ibu Negara Republik Indonesia yang pertama.

Pada tanggal 4 Januari 1946 pusat pemerintahan Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta karena keadaan Jakarta dirasakan makin tidak aman, menyusul hadirnya tentara NICA yang membonceng kedatangan tentara sekutu. Oleh sebab itu Soekarno pun memboyong keluarganya tinggal di Yogyakarta.

Menjadi seorang Ibu negara membuat Fatmawati menjadi sosok yang setia mendampingi aktivitas kenegaraan Soekarno. Mereka terlihat sangat harmonis hanya saja Fatmawai dan Bung Karno tidak pernah merayakan ulang tahun perkawinan, Jangankan kawin perak atau kawin emas, ulang tahun pernikahan ke-1, 2 atau 3 saja tidak pernah.

Sebabnya tak lain karena keduanya tidak pernah ingat kapan mereka menikah. Hal ini bisa dimaklumi karena saat berlangsungnya pernikahan, zaman sedang dibalut perang. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk dan Jepang baru datang untuk menjajah Indonesia.

“Kami tidak pernah merayakan pernikahan perak atau pernikahan emas. Sebab kami anggap itu soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan besar yang hebat dan dahsyat”. – Fatmawati Soekarno.

Kehidupan pernikahan Bung Karno dan Fatmawati memang penuh dengan gejolak perjuangan. Dua tahun setelah keduanya menikah, Indonesia mencapai kemerdekaan. Tetapi ini belum selesai, justru saat itu perjuangan fisik mencapai puncaknya. Bung Karno pastinya terlibat dalam setiap momen-momen penting perjuangan bangsa.

Anaknya Bersama Soekarano

Biografi Fatmawati
Biografi Fatmawati

Fatmawati melahirkan putra pertamanya bersama Soekarno yang diberi nama Guntur Soekarnoputra. Guntur lahir pada saat Bung Karno sudah berusia 42 tahun. Lalu berikutnya lahirlah Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan anak bungsunya yaitu Guruh Soekarnoputra.

Putra-putri Bung Karno dengan Fatmawati dikenal memiliki bakat kesenian tinggi. Hal itu tak aneh mengingat Bung Karno adalah sosok pengagum karya seni, sementara Ibu Fatmawati sangat pandai menari. Ibu Fatmawati mendapatkan banyak simpati, karena sikapnya yang ramah dan mudah bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat.

Sebagai seorang Ibu Negara, Fatmawati kerap mendampingi Bung Karno dalam kunjungan ke berbagai wilayah Republik Indonesia untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat terhadap Belanda dan mengikuti kunjungan Presiden Soekarno ke berbagai Negara sahabat.

Hingga kini putri-putri Soekarno bersama Fatmawati seperti Megawati dan Rachmawati masih aktif dalam lingkup politik mengikuti jejak ayahnya.

Menjahit Bendera Pusaka

Kalau ada yang bertanya, apa peran perempuan menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan? Tentu kita akan teringat dengan sosok Fatmawati, istri Bung Karno. Beliau merupakan wanita yang memiliki jasa dalam upacara kemerdekaan Indonesia dalam setelah pembacaan proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Soekarno dan Fatmawati menikah 3 tahun sebelum kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, pada saat persiapan proklamasi kemerdekaan Fatmawati kerap kali mendampingi Soekarno ke berbagai acara kenegaraan.

Salah satu dukungan dan bantuan jasa Fatmawati adalah dengan menjahit sendiri Bendera Pusaka Sang Saka Merah putih untuk dikibarkan saat pembacaan teks proklamasi berlangsung. Pemudi Trimurti yang membawa nampan dan menyerahkan bendera pusaka kepada Latief Hendraningrat dan Soehoed untuk dikibarkan.

Semua yang hadir mengumandangkan lagu Indonesia Raya saat itu. Pada hari itu, Ibu Fatmawati ikut dalam upacara tersebut dan menjadi pelaku sejarah Kemerdekaan Indonesia. Fatmawati menjahit sendiri sang merah putih dengan tangannya.

Beliau menggunakan kain bahan terbaik yang telah disiapkannya untuk bisa berkibar bebas diatas tiang bendera. Yang mana hal itu menandakan kemerdekaan Indonesia telah berada di tangan masyarakat. Dan hari itu menjadi hari menggembirakan bagi seluruh rakyat Indonesia dari sabang sampai marauke.

Wafatnya Fatmawati

Peran serta seorang Ibu Negara dalam pembangunan telah ditunjukkan oleh Ibu Fatmawati. Selama menemani Bung Karno mengemban tugas menjadi pemimpin negara. Fatmawati sering melakukan kegiatan sosial, seperti aktif melakukan pemberantasan buta huruf, mendorong kegiatan kaum perempuan, baik dalam pendidikan maupun ekonomi.

Menurut catatan biografi Fatmawati, beliau wafat dikarenakan serangan jantung pada tanggal 14 Mei 1980 di Kuala Lumpur. Saat itu, Fatmawati sedang dalam perjalanan pulang kembali dari Mekkah setelah melaksanakan ibadah umroh. Fatmawati meninggal di usianya yang ke 57 tahun. Fatmawati Soekano dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta. Kata-kata terakhir beliau sebelum meninggal waktu itu

“Datang ke Mekah sudah menjadi pendaman cita-citaku. Saban hari aku melakukan zikir dan mengucapkan syahadat serta memohon supaya diberi kekuatan mendekat kepada Allah. Juga memohon supaya diberi oleh Tuhan, keberanian dan melanjutkan perjuangan fi sabilillah. Aku berdo’a untuk cita-cita seperti semula yaitu cita-cita Indonesia Merdeka. Jangan sampai terbang Indonesia Merdeka.”

Sebagai salah satu istri presiden Soekarno, Fatmawati juga menjadi lambang wanita Indonesia yang setia mendampingi, menerima, patuh dan juga tegar. Peran aktifnya dalam berorganisasi, ikut berjuang dalam menghapuskan buta huruf di kalangan wanita, dan juga kegiatan sosial lainnya menjadi salah satu inspirasi tersendiri bagi banyak wanita Indonesia.

Dari sedikit ulasan biografi Fatmawati di atas, para masyarakat Indonesia terutama kaum wanita dapat mengambil banyak pelajaran positif dari kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan Ibu Fatmawati.

Pengahargaan Untuk Fatmawati

Untuk mengenang salah satu sosok berpengaruh pada peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia ini, di dirikanlah Rumah Sakit Fatmawati terletak di Kelurahan Cilandak Barat, Kecamatan Cilandak, Wilayah Jakarta Selatan. Didirikan pada tahun 1954 oleh Ibu Fatmawati Soekarno.

Semula direncanakan untuk dijadikan sebuah Sanatorium Penyakit Paru-paru bagi anak-anak. Pada tanggal 15 April 1961 penyelenggaraan dan pembiayaan rumah sakit diserahkan kepada Departemen Kesehatan sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi RS Fatmawati.

Dalam perjalanan RS Fatmawati, tahun 1984 ditetapkan sebagai Pusat Rujukan Jakarta Selatan dan tahun 1994 ditetapkan sebagai RSU Kelas B Pendidikan. Selain penggunaan namanya untuk sebuah rumah sakit di Jakarta, ada juga salah satu bandara di Bengkulu yang menggunakan nama Fatmawati untuk lebih mengenang keberadaan beliau.

Di Kota Bengkulu, sebagai kota kelahiran Ibu Fatmawati, Pemerintah Daerah beserta seluruh elemen memberikan apresiasi terhadap Ibu Fatmawati. Sebagai bentuk penghargaan dan sekaligus untuk mengenang Ibu Fatmawati, maka pada tanggal 14 November 2001, Bandar Udara Padang Kemiling diubah menjadi Bandar Udara Fatmawati.

Perubahan nama Bandar udara ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri. Perjuangan Ibu Fatmawati selama masa sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan diakui oleh Pemerintah Pusat.

Selain menyematkan nama Fatmawati pada sebuah Rumah Sakit dan Bandara Udara. Ditetapkan pula gelar pahlawan untuk Fatmawati. Penghargaan gelar pahlawan diberikan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118/TK/2000 tanggal 4 November 2000 oleh PreAbdurrahman Wahid. Sejak itu Pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Fatmawati.

Penutup

Itulah kisah perjalanan hidup Fatmawati mulai sejak kecil hingga perjalanannya bersama Bung Karno. Jalan penjangnya bersama Bung Karno lah yang melambungkan nama dan jasanya bagi kemerdekaan Indonesia. Hingga kini jasa-jasa beliau masih terus teringat dan tergores dalam sejarah bangsa Indonesia.

Sebagai ibu negara pertama, jasa beliau akan selau dikenang bangsa Indonesia, selama bendera merah putih berkibar di atas tiang yang tinggi. Inilah salah satu bukti, bahwa dedikasi dan pengabdian yang tulus pada negara, tidak akan pernah membuat siapapun saja ‘mati’. Meskipun jasad telah tiada, tapi jasa-jasanya terus hidup sampai hari ini.

Kita sebagai generasi bangsa, patut mengambil sikap baik dari biografi fatmawati yang singkat ini ya sahabat diary. Terutama bagi para perempuan, agar tidak patah semangat dalam menggapai cita-cita untuk bermanfaat bagi bangsa. Semoga biografi Fatmawati ini benrmanfaat bagi semua sahabat diary, sampai jumpa di artikel lainnya.

Ketahui juga Biografi Tokoh, Profil Negarawan dan Tokoh Terkenal Indonesia berikut ini: