Biografi Cut Nyak Dien: Sang Pahlawan Wanita dari Aceh

0
34
biografi Cut Nyak Dien
biografi Cut Nyak Dien

diarylounge.com, Artikel kali ini akan membahas tentang biografi Cut Nyak Dien. Nah, sahabat diary tahu kan sosok pahlawan wanita yang satu ini? Cut Nyak Dhien adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Aceh.

Beliau berjuang melawan penjajahan Belanda pada masa Perang Aceh. Beliau pahlawan perempuan yang gigih, tangguh dan pemberani yang tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dien adalah salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya lanjut masih dapat mencabut rencong dan berjuang melawan pasukan Kolonial Belanda sampai akhirnya ia ditangkap dan dibuang.

Berkat perjuangannya tersebut, Presiden Soekarno menobatkannya sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Sebelumnya kita sudah membahas beberapa biografi pahlawan Indonesia. Sahabat diary pun juga sudah tahu sosok-sosok yang diberi gelar pahlawan berkat jasanya bagi Indonesia.

Bicara tentang pahlawan nasional wanita, mungkin selama ini sahabat diary lebih banyak mengenal sososk R.A. Kartini atau Dewi Sartika. Padahal masih ada sosok perempuan tangguh lain yang juga memiliki semangat juang tinggi dalam meraih kemerdekaan.

Salah satunya ialah Cut Nyak Dien yang akan kita bahas biografinya dalam artikel ini. Cut Nyak Dien berasal dari keluarga bangsawan Aceh. Namun meski begitu beliau tak segan mengikuti pertempuran melawan penjajahan Belanda. Beliau pun selalu memberi dukungan suaminya agar selalu bersemangat memperjuangkan wilayah-wilayah Aceh yang direbut penjajah.

Ketika suaminya gugur di medan perang, Cut Nyak Dien tak kehilangan semangat juang. Walaupun kondisinya semakin renta dan fisik kian melemah, beliau tetap tak mau menyerah, pun saat pasukan Belanda hendak mengepung markas mereka. Perjuangan beliau terus menerus hingga akhir hayatnya, meski di akhir beliau harus tertangkap pasukan Belanda dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.

Nama : Cut Nyak Dien

Tempat Lahir : Lempadang, Aceh

Tahun Lahir : 1848

Wafat : Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908

Agama : Islam

Orang Tua : Teuku Nanta Seutia

Suami : Ibrahim Lamnga, Teuku Umar

Anak : Cut Gambang

Kehidupan Masa Kecil

Biografi Cut Nyak Dien dimulai saat beliau kecil yang dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di daerah Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Hingga kini belum ada biografi yang mengetahui kapan tanggal pasti kelahiran Cut Nyak Dien.

Beliau lahir di Lempadang, Kerajaan Aceh. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau, Sumatera Barat.

Datuk Makhudum Sati merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman. Datuk Makhudum Sati datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Sedangkan ibunya merupakan putri uleebalang Lampageu.

Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dien adalah anak gadis yang cantik. Beliau memperoleh pendidikan yang baik pada bidang agama yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama dan pendidikan mengurus rumah tangga seperti memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya.

Sebab itulah banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dien dan berusaha melamarnya. Semakin hari, Cut Nyak Dien semakin tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pemberani. Jiwa nasionalis pada dirinya sudah tumbuh sejak kecil.

Beliau sangat ingin mengusir penjajah dari tanah Aceh.  Hingga pada usianya yang ke 12 tahun beliau dinikahkan oleh orang tuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga pada tahun 1862, putra dari uleebalang Lamnga XIII.

Setelah menikah, bersama suaminya itulah Cut Nyak Dien dikaruniai satu orang anak laki-laki. Namun pada tahun 1878 suaminya, Teuku Ibrahim Lamnga tewas karena telah gugur dalam perang melawan Belanda di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878. Sepeninggalan suaminya itu meninggalkan duka mendalam pada Cut Nyak Dien.

Cut Nyak Dien merasa sangat sedih sebab ditinggal suaminya gugur saat perang. Setelahnya semangat wanita satu ini bukan memadam bahkan justru semakin membara untuk dapat mengalahkan pasukan Belanda demi menuntaskan sakit hatinya. Beliau juga hanya ingin menikah kembali dengan laki-laki yang mengizinkannya berperang melawan Belanda.

Perang Aceh

biografi Cut Nyak Dien
biografi Cut Nyak Dien

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Peperangan dimulai dengan melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen dan perang Aceh pun meletus. Pada perang pertama (1873-1874), Aceh yang dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah bertempur melawan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Kohler. Saat itu, Belanda mengirim 3.198 prajurit.

Lalu, pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Kohler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Cut Nyak Dien yang melihat hal ini sontak berteriak:

“Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?”

Hal itu dilakukan untuk mengobarkan semangat rakyat Aceh agar berani melawan Belanda yang telah bersikap semana-mena di seluruh daerah Indonesia. Kesultanan Aceh dapat memenangkan perang pertama.

Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenangan, sementara Kohler tewas tertembak pada April 1873. Pada tahun 1874-1880, di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874.

Cut Nyak Dien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1875. Suaminya selanjutnya bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim. Namun ketika bertempur di Gle Tarum, Ibrahim Lamnga tewas pada tanggal 29 Juni 1878. Hal ini membuat Cut Nyak Dien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda.

Saat itulah muncul kebencian dan dendam mendalam Cut Nyak Dien terhadap Belanda. Cut Nyak Dien pun tak ingin menikah lagi, beliau juga bersumpah hanya akan menikah dengan laki-laki yang bersedia membantu mewujudkan janjinya itu. Sumpah itu dipenuhi oleh Teuku Umar yang beliau nikahi pada tahun 1880, dua tahun sepeninggal suami pertamanya.

Pernikahan Dengan Teuku Umar

Lalu Tak lama setelah kematian Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dien dipersunting oleh Teuku Umar pada tahun 1880. Teuku Umar adalah salah satu tokoh yang ikut perang melawan Belanda. Pada awalnya Cut Nyak Dien menolak untuk dinikahkan kembali, tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut serta dalam medan perang sehingga membuat Cut Nyak Dien menerimanya.

Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dien bersama Teuku Umar bertempur bersama untuk melawan dan menjatuhkan Belanda. Mereka juga dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Cut Gambang. Perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi’sabilillah.

Dimasa pernikahannya bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien tak mengetahui rencana suaminya untuk menjatuhkan Belanda dengan melakukan gerakan mendekati Belanda dan membuat Belanda mempercayainya. Namun para pahlawan Aceh yang tidak mengetahui merasa geram dengan sikap Teuku Umar dan menyuduti Cut Nyak Dien.

Siasat Melawan Belanda

Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan “menyerahkan diri” kepada Belanda. Inilah langkah awas siasat berpura-pura dimulai. Belanda senang karena musuh yang berbahaya membantu mereka, sehingga memberikan gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan menjadikannya komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh.

Teuku Umar merahasiakan rencana untuk menipu Belanda, meskipun ia dituduh sebagai penghianat oleh orang Aceh. Bahkan, Cut Nyak Meutia datang menemui Cut Nyak Dien dan memakinya. Mengetahui hal tersebut Cut Nyak Dien pun berusaha menasehati suaminya untuk kembali melawan Belanda. Namun, Teuku Umar masih terus berhubungan dengan pemerintahan Belanda.

Saat itulah Teuku Umar lalu mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai. Ketika jumlah orang Aceh pada pasukan tersebut cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim bahwa dirinya berencana ingin menyerang basis Aceh.

Setelah itu Belanda percaya dan memberikan banyak bantuan kekuatan senjata. Ketika itu Teuku Umar dan Cut Nyak Dien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar).

Hal ini menyebabkan Belanda marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap baik Cut Nyak Dien dan Teuku Umar. Namun, gerilyawan kini dilengkapi perlengkapan dari Belanda. Mereka mulai menyerang Belanda sementara Jendral Van Swieten diganti. Penggantinya adalah Jendral Jakobus Ludovicius Hubertus Pel, dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan.

Perlawanan Terhadap Belanda

Ketika sadar bahwa mereka telah tertipu oleh siasat Teuku Umar, Pemerintahan Belanda saat itu sangat murka, mereka lalu mencabut gelar Teuku Umar, membakar rumah Teuku Umar dan juga mengejar keberadaannya.

Cut Nyak Dien dan Teuku Umar terus menekan Belanda, lalu menyerang Banda Aceh (Kutaraja) dan Meulaboh (bekas basis Teuku Umar), sehingga Belanda terus-terusan mengganti jendral yang bertugas.

Unit “Maréchaussée” lalu dikirim ke Aceh. Mereka dianggap biadab dan sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh. Selain itu, kebanyakan pasukan “De Marsose” merupakan orang Tionghoa-Ambon yang menghancurkan semua yang ada di jalannya. Akibat dari hal ini, pasukan Belanda merasa simpati kepada orang Aceh dan Van der Heyden membubarkan unit “De Marsose”.

Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jendral selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan masih tetap ada pada penduduk Aceh. Jendral Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini.

Mereka mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru.

Kembali ditinggal meninggal oleh suami akibat gugur dalam perlawanan terhadap Belanda membuat Cut Nyak Dien semakin yakin dan kuat untuk melawan Belanda. Cut Nyak Dien melanjutkan semangat kedua mantan suaminya untuk mengusir penjajah dan memerdekakan rakyat Aceh.

Melanjutkan Perlawanan Melawan Belanda

biografi Cut Nyak Dien
biografi Cut Nyak Dien

Perjuangan Cut Nyak Dien kemudian dilanjutkan. Beliau memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur sampai di masa kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah mahir dan terbiasa berperang di medan perang daerah Aceh.

Selain itu, kondisi fisik Cut Nyak Dien juga sudah semakin tua menjadi salah satu faktor melemahnya kekuatan pasukan mereka. Tak hanya semakin tua renta, Cut Nyak Dien juga mengidap penyakit-penyakit yang membuatnya melemah.

Matanya sudah mulai rabun dan ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang. Selain itu sulitnya memperoleh makanan membuat iba para pasukan-pasukannya.

Cut Nyak Dien Tertangkap

Ditengah kondisi pasukannya yang semakin melemah karena jumlah pasukan yang terus berkurang, sulitnya memperoleh makanan serta kondisi fisik Cut Nyak Dien yang mengidap penyakit rabun dan encok membuat iba anak buahnya. Sehingga memutuskan untuk melaporkan lokasi markas mereka kepada pemerintah Belanda saat itu.

Anak buah Cut Nyak Dien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena iba. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian.

Cut Nyak Dien akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di rumah sakit disana, sementara itu Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Cut Nyak Dien akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

Dalam biografi Cut Nyak Dien diketahui bahwa Cut Nyak Dien dipindah ke Sumedang berdasari orang terakhir yang melindungi Dien sampai kematiannya. Namun, Cut Nyak Dien yang memiliki penyakit rabun, sehingga membuatnya tertangkap.

Dibuang ke Sumedang

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di sana. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Namun, Cut Nyak Dien akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Hal itu didorong karena rasa takut Belanda bahwa kehadiran Cut Nyak Dien akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

berdasarkan biografi Cut Nyak Dien, beliau dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lain dan menarik perhatian bupati Suriaatmaja. Selain itu, tahanan laki-laki juga menyatakan perhatian mereka pada Cut Nyak Dien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas tahanan.

Wafatnya Cut Nyak Dien

Setelah kondisinya yang semakin tua renta dan penyakit yang diderita. Cut Nyak Dien pun wafat pada 6 November 1908. Beliau yang ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai “Ibu Perbu”. Cut Nyak Dien meninggal karena usianya yang sudah tua.

Makam Cut Nyak Dhien pertama kali dipugar pada 1987 dan dapat terlihat melalui monumen peringatan di dekat pintu masuk yang tertulis tentang peresmian makam yang ditandatangani oleh Gubernur Aceh Ibrahim Hasan pada tanggal 7 Desember 1987. Makam Cut Nyak Dhien dikelilingi pagar besi yang ditanam bersama beton dengan luas 1.500 m2.

Di belakang makam terdapat musholla dan di sebelah kiri makam terdapat banyak batu nissan yang dikatakan sebagai makam keluarga ulama H. Sanusi. Pada batu nissan Cut Nyak Dhien, tertulis riwayat hidupnya, tulisan bahasa Arab, Surah At-Taubah dan Al-Fajr, serta hikayat cerita Aceh.

Menurut penjaga makam, makam Cut Nyak Dhien baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh, Ali Hasan. Pencarian dilakukan berdasarkan data yang ditemukan di Belanda. Masyarakat Aceh di Sumedang sering menggelar acara sarasehan. Pada acara tersebut, peserta berziarah ke makam Cut Nyak Dhien dengan jarak sekitar dua kilometer. 

Menurut pengurus makam, kumpulan masyarakat Aceh di Bandung sering menggelar acara tahunan dan melakukan ziarah setelah hari pertama Lebaran. Jumlah peziarah ke makam Cut Nyak Dhien berkurang karena Gerakan Aceh Merdeka melakukan perlawanan di Aceh untuk merdeka dari Republik Indonesia.

Selain itu, daerah makam ini sepi akibat sering diawasi oleh aparat.Kini, makam ini mendapat biaya perawatan dari kotak amal di daerah makam karena pemerintah Sumedang tidak memberikan dana.

Bentuk Apresiasi

1. Dinobatkan Pahlawan Revolusi

Perjuangan Cut Nyak Dien membela tanah air tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Beliau yang dimana merupakan sosok wanita memiliki semangat yang kuat dan keberanian untuk membebaskan bangsanya dari tangan penjajah.

Hal ini pula menjadi perhatian pemerintah Indonesia setelah Merdeka. Cut Nyak Dien dinyatakan sebagai pahlawan wanita revolusi oleh Presiden Soekarno dan disahkan dalam peraturan presiden.

2. Dikisahkan dalam Film

Selain itu perjuangan Cut Nyak Dien sebagai salah satu pahlawan bangsa pernah diinterpretasi dalam film drama epos berjudul Tjoet Nja’ Dhien pada tahun 1988 yang disutradarai oleh Eros Djarot dan dibintangi Christine Hakim sebagai Tjoet Nja’ Dhien, Piet Burnama sebagai Pang Laot, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar dan juga didukung Rudy Wowor.

Tidak hanya kisahnya yang bagus tetapi film ini memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik, dan merupakan film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes (tahun 1989).

3. Dipentaskan dalam terater

Pada 13 April 2014, sebuah karya seni untuk mengenang semangat perjuangan dan perjalanan hidup Cut Nyak Dien dalam bentuk teater monolog yang dimainkan dan disutradarai oleh Sha Ine Febriyanti. Teater tersebut dipentaskan pertama kali di Auditorium Indonesia Kaya, Jakarta.

Naskah berdurasi 40 menit yang ditulis oleh Prajna Paramita kemudian dipentaskan kembali pada 2015 di Jakarta, Pekalongan, Magelang, Semarang, dan Banda Aceh. Rencananya, teater monolog Cut Nyak Dien juga akan dipentaskan di luar negeri yaitu Australia dan Belanda.

4. Biografi dalam majalah anak-anak

Sangat banayak buku dan artikel yang mengulas biografi Cut Nyak Dien. Akan tetapi biografi beliau juga pernah dituangkan dalam bentuk cerita bergambar secara berseri dalam majalah anak-anak yakni Ananda.

5. Menjadi Nama Kapal

Nama Cut Nyak Dien sangat akrab di telinga masayarak Indonesia. Seluruh masyarakat tentu tahu tentang jasa beliau sebagai seorang pahlawan wanita. Selain dikisahkan nama beliau juga dijadikan sebagai nama sebuah kapal perang TNI-AL yakni KRI Cut Nyak Dhien

6. Tertera dalam mata uang rupiah

Mata uang rupiah yang bernilai sebesar Rp10.000,00 yang dikeluarkan tahun 1998 memuat gambar Cut Nyak Dhien dengan deskripsi Tjoet Njak Dhien.

7. Nama Jalan

Setiap pahlawan Indonesia banyak yang namanya diabadikan menajdi nama-nama jalan. Salah satunya ialah Cut Nyak Dien yang namanya diabadikan di berbagai kota Indonesia sebagai nama jalan.

8. Masjid Cut Nyak Dien

Sebagai bentuk apresiasi atas jasa beliau, didirikanlah sebuah Masjid Aceh kecil di dekat makamnya untuk mengenangnya.

Itulah kisah biogrfai Cut Nyak Dien sang pahlawan wanita revolusi yang bisa dipelajari oleh sahabat-sahabat diary. Semoga kisah beliau dapat memberikan mafaat bagi kehidupan sahabat diary dimasa sekarang dan menumbuhkan rasa cinta tanah air yang begitu besar. Sampai jumpa di artikel biografi lainnya ya sahabat diary.

Ketahui juga Biografi Tokoh, Profil Negarawan dan Tokoh Terkenal Indonesia berikut ini: