Biografi BJ Habibie : Presiden Ketiga, Sang Ahli Pesawat Terbang Indonesia

0
29
biografi BJ Habibie
biografi BJ Habibie

diarylounge.com, Hallo sahabat diary, dalam artikel ini kita akan membahas biografi BJ Habibie. Siapa yang tidak kenal sosok beliau, presiden Republik Indonesia ketiga yang namanya sangat harum tak hanya di dalam melainkan juga di luar negeri. BJ Habibie sangat dikenal dengan kecerdasannya hingga saat muda beliau menjadi anak bangsa yang berprestasi di kancah internasional.

Beliau merupakan sosok anak yang religius dan berprestasi sehingga mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di Jerman. Kecintaannya pada dunia teknologi mengantarkan beliau pada kesuksesannya. Tak hanya itu, biografi BJ Habibie juga sangat fenomenal dari kisah cintanya bersama sang istri tercinta yang banyak diidamkan kaula muda.

Nama Lengkap :  Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie

Nama Panggilan : Rudy, Habibie

Tempat, Tanggal Lahir : Parepare, 25 Juni 1936

Agama : Islam

Orang Tua : Alwi Abdul Jalil Habibie (Ayah), RA. Tuti Marini Puspowardojo (Ibu).

Saudara Kandung : Junus Effendi Habibie, Alwini Karsum Habibie, Satoto Mohammad Duhri Habibie, Sri Sulaksmi Habibie, Sri Rahayu Fatima Habibie, Sri Rejeki Habibie, Ali Buntarman, Suyatim Abdurrahman Habibie

Istri : Hasri Ainun Besari Habibie

Anak :Ilham Akbar, Thareq Kemal

Pendidikan : S1: Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung, S2: Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule, Jerman, S3: Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule, Jerman.

Karir : Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB, Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang MBB, Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB, Wapres RI ke-7, Menteri Riset dan Teknologi ke-1, dan Presiden RI ke-3.

Masa Kecil BJ Habibie

Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan nama lengkap dari BJ Habibie. Beliau lahir di Pare-Pare Sulawesi Selatan pada tanggal 25 Juni 1936. Sejak kecil dan saat menempuh pendidikan pun beliau akrab disapa Rudy.

Ayahnya adalah seorang ahli pertanian yang berasal dari Gorontalo bernama Alwi Abdul Jalil Habibie sedangkan ibunya bernama R.A. Tuti Marini Puspowardojo seorang spesialis mata yang berasal dari Yogyakarta.

BJ Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Beliau tumbuh dalam keluarga yang religius, ayahnya selalu melantunkan ayat suci Al-Quran semenjak beliau kecil.Sejak kecil BJ Habibie memang sudah dikenal sebagai anak yang cerdas karena saat umurnya tiga tahun dirinya sudah mampu membaca Al-Quran dengan lancar.

Semua itu karena sang ayah yang mampu mendidik dirinya dengan baik. Habibie menyatakan bahwa ketika ayahnya membacakan ayat suci Al-Quran membuat dirinya tenang. Sejak kecil BJ Habibie sangat menyukai pesawat terbang, beliau ingin menjadi pembuat pesawat terbang.

Memasuki usia sekolah semakin nampak kecerdasan pada habibie. Pada usianya 14 tahun beliau ditinggalkan oleh ayahnya akibat serangan jantung. Saat itu, ibunya pun mengantikan peran ayahnya untuk mengurus serta membiayai kehidupan mereka. Ibunya bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.

Pada akhirnya sang ibupun memutuskan untuk menjual rumah dan pindah ke Bandung. BJ Habibie beserta saudara-saudaranya juga ikut pindah dan melanjutkan pendidikan di Bandung. Habibie merupakan siswa yang tekun dan cerdas terutama dalam bidang teknologi hingga beliau diterima kuliah di Institute Teknologi Bandung (ITB).

Masa Kuliah BJ Habibie

Setelah lulus dari SMA pada tahun 1954 BJ Habibie melanjutkan pendidikannya di Institute Teknologi Bandung (ITB). Pada masa itu namanya masih Universitas Indonesia Bandung. Beliau belajar Teknik Mesin di fakultas Teknik disana.

Namun hanya beberapa bulan saja beliau menempuh pendidikan di ITB, karena kegigihannya dan kecerdasannya beliau mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan pendidikannya di Jerman.

Pada waktu itu pemerintah Indonesia dibawah pimpinan Presiden Soekarno gencar membiayai ratusan siswa cerdas Indonesia untuk mengemban pendidikan di luar negeri dan menimba ilmu disana. BJ Habibie merupakan rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara.

Kemudian Habibie memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule. Semasa menjalani kuliah di Jerman, BJ Habibie melewati dengan penuh perjuangan.

Beliau menempuh pendidikan disana bukan hanya dengan waktu singkat tetapi merupakan sekolah bertahun – tahun sambil kerja praktek. Baginya musim liburan bukanlah untuk berlibur, melainkan mengisinya dengan ujian dan mencari uang untuk mencari buku untuk menunjang materi pendidikannya.

Pada biografi BJ Habibie dijelaskan bahwa sejak awal beliau memang tertarik dengan how to build commercial aircraft bagi rakyat Indonesia yang menjadi ide Presiden Soekarno di masa jabatannya. Darisana kemudian muncul perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya IPTN.

Kemudian ketika BJ Habibie sampai di Jerman, Habibie punya tekad untuk sungguh-sungguh di perantauan. Beliau bertekad harus pulang membawa kesuksesan, mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupan sehari – harinya. Beberapa tahun kemudian, di tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar disana diberikan beasiswa penuh.

Hanya beliau yang punya paspor hijau atau swasta daripada teman yang lain. Kemudian pada tahun 1960, BJ Habibie mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule dengan predikat cumlaude (sempurna) yang nilai rata – ratanya mencapai 9,5.

Dengan gelar insinyur yang sudah dikantongi kemudian membuat Habibie muda mendaftarkan dirinya untuk bekerja di Firma Talbot yang merupakan sebuah industri kereta api Jerman. Kala bekerja di perusahaan tersebut beliau dapat menyelesaikan permasalahan yang ada di perusahaan Firma Talbot yang sedang membutuhkan sebuah wagon untuk mengangkut  barang-barang ringan bervolume besar.

BJ Habibie memecahkan permasalahan tersebut dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip kontruksi sayap pesawat terbang. Setelah itu BJ Habibie melanjutkan kembali pendidikannya untuk gelar doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen.

Setelah itu kemudian beliau melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fure Maschinenwesen Aachen kemudian menikah di tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman. Beliau mendapatkan gelar doktornya pada tahun 1965, ia mendapat predikat Summa Cumlaude dengan nilai rata-rata 10.

Karir BJ Habibie

Dikenal dengan sosok yang ambisius dan pandai, BJ Habibie tidak ingin menyia-nyiakan gelar doktornya. Beliau bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau dikenal dengan MBB Hamburg (1965-1969) sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang.

Setelah itu, pada tahun 1969-1973 ia menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB. Tak hanya itu, atas kinerja dan kejeniusannya, 4 tahun kemudian BJ Habibie dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 serta menjadi Penasihat Senior Bidang Teknologi untuk Dewan Direktur MBB 1978.

Pada saat itu BJ Habibie juga menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman terkemuka ini. Sebelum memasuki usia 40 tahun, karir BJ Habibie sudah sangat cemerlang, terutama dalam desain dan konstruksi pesawat terbang.

Ia menjadi “primadona” di negeri Jerman dan ia pun mendapat kedudukan terhormat, baik secara materi maupun intelektualitas oleh orang Jerman. Selama bekerja di MBB Jerman, BJ Habibie banyak menyumbang beragam hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika.

Beberapa rumusan teori yang ditemukan olehnya dikenal dalam dunia dirgantara seperti “Habibie Factor”, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method”. Selain memiliki sifat ambisius, BJ Habibie juga memiliki jiwa peduli yang sangat besar. Pada tahun 1968, BJ Habibie mengundang sejumlah insinyur untuk bekerja di industri pesawat terbang Jerman.

Ada sekitar 40 insinyur Indonesia yang akhirnya dapat bekerja di MBB atas rekomendasi darinya. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan skill dan pengalaman para insinyur Indonesia untuk suatu saat dapat kembali ke tanah air dan membuat produk industri dirgantara, maritim dan darat secara mandiri.

Dan kala itu di masa pemerintahan Presiden Soeharto. Diutuslah Ibnu Sutowo ke Jerman untuk menemui serta membujuk Habibie pulang ke Indonesia. Mengetahui hal itu BJ Habibie langsung bersedia walaupun melepaskan jabatan dan posisi tingginya di Jerman.

Hal ini dilakukannya demi memberikan sumbangsih ilmu dan teknologi pada bangsa yang sangat ia cintai. Pada tahun 1974 genap di usia 38 tahun, BJ Habibie pulang ke tanah air. Atas keputusan tersebut BJ Habibie diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung di bawah Presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi sampai tahun 1978.

Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, BJ Habibie masih sering perjalanan ke Jerman sebab masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB. BJ Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada tahun 1978.

Sejak saat itu, dari tahun 1978 hingga 1997, ia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap menjadi Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Tidak hanya itu, ia juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya.

Pembuat Pesawat Terbang N250 Gatot Kaca

Setelah kepulangannya ke Indonesia dan 20 tahun menjabat sebagai menteri Negara Ristek/Kepala BPPT. Beliau memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis. Pada tahun 1995, dalam biografi BJ Habibie beliau berhasil memimpin pembuatan pesawat N250 Gatot Kaca yang merupakan pesawat buatan Indonesia yang pertama.

Pesawat N250 rancangan Habibie kala itu bukan sebuat pesawat yang dibuat dengan sembarang. Didesain sedemikian rupa oleh Habibie, Pesawat N250 ciptaannya sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, teknologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan Habibie untuk 30 tahun kedepan.

Habibie membutuhkan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal. Pesawat N250 Gatot Kaca merupakan satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’. Pesawat N250 Gatot Kaca sudah terbang 900 jam menurut Habibie dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA (Federal Aviation Administration).

PT IPTN bahkan membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu, meskipun pada waktu itu banyak yang memandang remeh pesawat buatan Indonesia itu termasuk sebagian kalangan di dalam negeri. Saat IPTN dibawah komando Habibie sudah mulai berjaya dan mempekerjakan 16.000 orang, Tiba-tiba Presiden Soeharto memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Hal ini dilakukan ketika badai krisis moneter melanda indonesia antara tahun 1996-1998. Penyebab lain ditutupnya IPTN ketika itu adalah Indonesia menerima bantuan keuangan dari IMF (International Monetary Fund) dimana salah satu syaratnya adalah menghentikan proyek pembuatan pesawat N250 yang merupakan kebanggaan Habibie.

Semua tenaga ahli yang bekerja di IPTN dan industri strategis lain terpaksa menyebar dan bekerja di luar negeri, kebanyakan dari mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Brazil, Canada, Amerika dan Eropa. Hal ini tentu sangat membuat BJ Habibie sedih dan kecewa.

Berdasarkan biografi BJ Habibie, beliau mengatakan “…Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun. Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat dari negara mereka!”

BJ Habibie di Masa Kepemimpinannya

Habibie dimasa kepemimpinannya
Biografi BJ Habibie

Setelah PT IPTN ditutup, BJ Habibie kala itu masih menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Beliau kemudian diangkat menjadi Wakil Presiden di tanggal 14 Maret 1998 untuk mendampingi Presiden Soeharto. Namun hanya beberapa bulan setelah beliau menjabat, gejolak politik pun tak bisa terhindarkan dan mencapai puncaknya. Presiden Soeharto yang sudah bertahta di kursi presiden selama puluhan tahun akhirnya lengser dengan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998.

Lengsernya Presiden Soeharto pun secara otomatis menjadikan BJ Habibie secara resmi menggantikannya menempati kursi nomor satu di Indonesia. Beliau menjadi Presiden ketiga di RI. BJ Habibie hanya menjabat sekitar satu tahun saja dimana beliau justru mewarisi kondisi saat Indonesia sedang dalam masa rusuh dan banyak wilayah yang ingin melepaskan diri dari Indonesia. Kondisi Indonesia saat itu memang betul-betul memprihatinkan.

BJ Habibie mewarisi kondisi penuh hiruk pikuk setelah pengunduran diri Soeharto akibat tata kelola yang salah pada zaman orde baru, sehingga menimbulkan berbagai kerusuhan dan disintegerasi sosial hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kemudian setelah memperoleh kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet.

Salah satu tugas pentingnya yakni kembali mendapatkan sokongan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan sektor ekonomi. Ia juga membebaskan para tahanan politik dan meredakan kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.

Pada masa pemerintahannya yang cukup singkat, ia berhasil memberikan pondasi yang kokoh bagi Indonesia, pada eranya lahirlah UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting yakni UU otonomi daerah.

Meski begitu BJ Habibie tetap berusaha untuk membangun kembali Indonesia. Beberapa keputusan penting yang dilakukan adalah dengan lahirnya UU tentang Otonomi Daerah. Beliau pun mampu membebaskan rakyatnya untuk beraspirasi sehingga Indonesia bisa membuat banyak partai politik baru yang muncul.

Mata uang Indonesia di mata asing saat itu yang mencapai 15 ribu rupiah per dolar bisa ditekannya menjadi hanya di bawah 10 ribu rupiah saja. Beliau punmampu melikuidasi bank bermasalah kala itu. Namun BJ Habibie pun dipaksa lengser saat itu setelah adanya sidang umum MPR di tahun 1999.

Pidato pertanggungjawaban yang diberikannya ditolak MPR dengan alasan Timor Timur yang lepas dari Indonesia saat itu. Setelah jabatannya lepas, KH Abdurrahman Wahid menjadi Presiden penggantinya. BJ Habibie pun sudah kembali menjadi warga negara Indonesia biasa dan kembali bermukim di Jerman meski sesekali pulang ke Indonesia.

Kisahnya Bersama Ibu Ainun

Habibie dan Ainun
biografi BJ Hebibie

Dari biografi BJ Habibie, kita juga dapat mengetahui kehidupan beluai setelah berkeluarga. BJ Habibie atau yang biasa disapa Rudy oleh teman temannya semasa pendidikan di Jerman, kemudian menikahi seorang wanita bernama Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962. Ibu Ainun merupakan temannya semasa SMA.

Kisah cinta mereka sangat fenomenal dikenal sebagai pasangan harmonis dan romantis. Ainun yang merupakan seorang dokter harus ikut dengan suaminya ke Jerman yang saat itu sedang menyelesaikan gelar doktornya lalu bekerja di perusahaan Jerman. Kehidupan mereka disana berawal dengan sangat sederhana hingga membuat Ainun merasa sedih dan ingin kembali ke Indonesia.

Bahkan di pagi hari Habibie harus berjalan ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat pengeluaran. Setelah bekerja, ia belajar pada malam hari untuk kuliahnya. Selain itu, istrinya Nyonya Hasri Ainun Habibie harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci baju demi menghemat pengeluaran keluarga.

Dari pernikahannya ini Habibie dan Ainun di karuniai dua orang anak yang bernama Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Ainun adalah istri yang setia mendampingi Habibie semasa hidupnya. Hingga Ainun dinyatakan mengidap sakit cukup parah. Ainun dirawat dan diobati di Jerman hingga akhir hayatnya.

Lama tak terdengar kabarnya, kemudian pada tanggal 22 Mei 2010, istri BJ Habibie yaitu Hasri Ainun Habibie meninggal di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum, Muenchen, Jerman karena penyakit kanker ovarium. Ainun Habibie  meninggal pada hari Sabtu pukul 17.30 waktu Jerman atau 22.30 waktu Jakarta.

Ini menjadi duka yang amat mendalam bagi Mantan Presiden Habibie dan Rakyat Indonesia yang merasa kehilangan. Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas. Kisah Habibie dan Ainun juga diangkat menjadi film biografi di Indonesia.

Itulah biografi BJ habibie yang bisa kalian pelajari ya sahabat diary. Habibie merupakan sosok fenomenal bagi bangsa Indonesia. Kecerdasan dan kegigihannya mampu mengantarkan beliau pada cita-citanya. Tak sedikit penghargaan yang diraihnya selama ini.

Beliau dan kedua anaknya memang tidak aktif dalam dunia politik Republik Indonesia. Selain berprestasi, Habibie juga sosok laki-laki soleh dan setia. Rasa cintanya yang besar kepada sang istri hingga akhir hayat. Biografi BJ Habibie banyak diangkat dalam beberapa buku.

Tidak hanya tertuang dalam sebuah buku loh sahabat diary tetapi juga ditampilkan dalam sebuah film. Yaitu film garapan Hanung Bramantyo “Habibie&Ainun” dan “Rudy Habibie”. Banyak pengalaman dari perjalanan BJ Habibie yang dapat kita jadikan pelajaran hidup loh sahabat diary. Semoga biografi BJ Habibie dalam artikel ini bermanfaat.

Ketahui juga Biografi Tokoh, Profil Negarawan dan Tokoh Terkenal Indonesia berikut ini: