Asuransi Syariah Berbasis Wakaf, Begini Penjelasannya

0
10
asuransi syariah wakaf

Di dalam manajemen keuangan kekinian, wakaf bisa diintegrasikan dengan instrumen asuransi syariah (takaful) yang terkait dengan wakaf uang yang memang sedang gencar dikembangkan di Indonesia. Hal ini berdasarkan pada Undang-undang nomor 41 tahun 2004 yang menyebut bahwa penerimaan dan pengelolaan wakaf uang bisa diintegrasikan dengan Lembaga Keuangan Syariah (LKS).

Wakaf bukan melulu soal harta benda berupa tanah atau bangunan saja. Sistem pengelolaan dalam bentuk uang juga tidak berbeda dengan mauquf berupa tanah. Masih mengacu pada UU nomor 41 tahun 2004, di mana wakif harus menyerahkan mauquf uang kepada Lembaga Keuangan Syariah yang disebut sebagai Penerima Wakaf Uang (PWU). Mauquf uang tidak boleh diserahkan langsung kepada nazhir. Oleh sebab itulah, nazhir harus menginvestasikan uang tersebut sesuai dengan syariah.

asuransi syariah wakaf

Syarat ketika menginvestasikannya adalah nilai nominal uang tidak boleh berkurang. Hasilnya, maksimal 10 persen dialokasikan untuk upah nazhir, dan 90 persen untuk kesejahteraan sosial. Dalam pengelolaan ini, nazhir bekerja sama dengan perbankan syariah. Bahkan sekarang, wakaf sudah mulai dipadukan dengan instrumen takaful.

Takaful dalam konteks muamalah berarti saling memikul resiko antara sesama manusia, di mana yang satu menjadi penanggung resiko yang lain yang berdasar pada syariat dan juga toleransi terhadap sesama umat manusia. Sedangkan secara definitif, takaful ini berarti usaha sejumlah orang untuk saling tolong menolong dan melindungi melalui investasi yang berbentuk aset dengan pola pengembalian terhadap resiko dan bahaya tertentu melalui akad menurut syariah.

Meskipun sama-sama disebut asuransi, tentu saja asuransi syariah berbeda dengan asuransi konvensional dari segi premi. Premi takaful yang dibayarkan oleh peserta terdiri atas dana tabungan dan tabarru. Dana tabungan maksudnya berupa dana titipan dari peserta dan pendapatan hasil investasi bersih akan dilakukan dengan sistem bagi hasil setiap tahun. Tentu saja dana tabungan ini bisa dikembalikan pada peserta yang mengajukan klaim. Sementara Tabarru berupa derma yang diikhlaskan peserta jika nantinya digunakan untuk saling membantu dan dibayarkan jika peserta meninggal dunia atau setelah perjanjian berakhir.

Setiap premi yang masuk dalam rekening tabarru ini akan dikumpulkan dalam “kumpulan dana peserta” yang akan diinvestasikan sesuai denga syariah pada proyek-proyek produktif. Kemudian keuntungan dari investasi dialokasikan maksimal 10 persen untuk keuntungan asuransi sebagai pengelola keuangan, dan sisanya untuk dana tolong menolong antar sesama peserta asuransi.

Tentu saja ada beberapa pola yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan asuransi yang berbasis syariah untuk mensinergikan wakaf dalam sistem instrumen asuransi. Perusahaan asuransi berbasis syariah merupakan pengelola wakaf uang dan juga penyalur investasi. Pada pengelolaan dana tabungan, biasanya diberlakukan takaful keluarga yang mana tabungannya dimasukkan dalam dua rekening yaitu tabungan dan tabarru. Bedanya wakaf dengan sistem asuransi jenis ini adalah dana wakaf dan hasil investasi dalam rekening tersebut tidak boleh dikembalikan pada peserta karena sudah diakafkan. Tapi disalurkan pada mauquf alaih (kepada yang berhak menerima) yang sudah ditunjuk oleh peserta. Dana pada rekening tabarru harus diinvestasikan sesuai syariah terlebih dahulu baru hasil investasinya dipergunakan untuk tolong menolong antarsesama peserta asuransi.

Tentu saja asuransi syariah yang berbasis wakaf akan sangat cocok dan sangat strategis untuk lebih dikembangkan. Terlebih jenis takaful keluarga yang konsepnya mirip wakaf ahli di mana harta diserahkan pada wakif untuk dikelola nazhir dengan produktif kemudian hasil investasinya untuk kesejahteraan keluarga. Selain itu manfaatnya akan berlangsung selamanya hingga ke generasi selanjutnya.